PatriaPos.com – Sebuah bangunan kuno tidak selalu menyimpan cerita yang sama dengan kisah yang berkembang di tengah masyarakat. Candi Miri Gambar di Desa Miri Gambar, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, menjadi salah satu contohnya.
Selama bertahun-tahun, situs ini dikenal masyarakat sebagai tempat yang berkaitan dengan Prabu Angling Darmo. Bahkan, salah satu relief burung yang terdapat di kawasan candi pernah dikaitkan dengan cerita tentang sang raja yang dipercaya dikutuk menjadi burung belibis putih.
Namun, ketika jejak tersebut ditelusuri melalui peninggalan arkeologis dan cerita yang tergambar pada relief, kisah Candi Miri Gambar ternyata jauh lebih rumit. Situs ini justru memperlihatkan hubungan dengan kebudayaan Jawa Kuno, tradisi Majapahit, cerita Panji, kisah Tantri Kamandaka, hingga kemungkinan praktik keagamaan tertentu.
Dengan kata lain, Candi Miri Gambar bukan hanya menarik karena mitos yang melekat padanya. Di balik bangunan bata merah yang tampak sederhana, terdapat sejumlah petunjuk mengenai bagaimana masyarakat Jawa pada masa lalu memaknai kehidupan, agama, kepemimpinan, hingga hubungan manusia dengan dunia spiritual.
Bukan Sekadar Petilasan Angling Darmo
Nama Angling Darmo memang sangat populer dalam cerita rakyat Jawa. Tokoh tersebut dikenal melalui berbagai versi kisah yang berkembang di masyarakat. Salah satu bagian ceritanya berkaitan dengan kemampuan memahami bahasa binatang dan kutukan yang membuatnya berubah menjadi burung.
Popularitas cerita tersebut kemudian membuat sejumlah tempat di Jawa dikaitkan dengan keberadaan Angling Darmo. Candi Miri Gambar juga termasuk salah satu situs yang dipercaya sebagai petilasannya.
Akan tetapi, penyebutan Angling Darmo perlu dibedakan dari bukti sejarah mengenai keberadaan tokoh tersebut.
Dalam sumber-sumber sejarah Jawa, nama Angling Darmo tidak ditemukan sebagai salah satu raja dalam catatan silsilah kerajaan. Kisahnya justru berkembang dalam sastra Jawa pada periode yang lebih muda.
Cerita yang kemudian dikenal sebagai Angling Darmo disebut memiliki hubungan dengan kisah Aridharma dalam tradisi Tantri. Cerita tersebut mengalami perkembangan dan perubahan dalam perjalanan waktu hingga dikenal masyarakat Jawa dalam bentuk yang berbeda.
Karena itu, hubungan antara Candi Miri Gambar dan Angling Darmo lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari tradisi cerita masyarakat, bukan langsung dianggap sebagai bukti bahwa tokoh tersebut pernah hidup atau meninggalkan candi tersebut.
Jejak Sejarah dari Beberapa Masa
Menariknya, sejarah Candi Miri Gambar justru memiliki petunjuk yang mengarah pada beberapa periode kerajaan di Jawa Timur.
Sejumlah temuan angka tahun dan gaya bangunan menunjukkan kemungkinan bahwa kawasan ini mengalami beberapa fase pembangunan atau pemanfaatan. Jejak tersebut membuat Candi Miri Gambar sering dibahas dalam kaitannya dengan perkembangan kebudayaan dari masa Kediri, Singasari hingga Majapahit.
Di sekitar situs juga pernah ditemukan peninggalan berupa inskripsi yang menyebut nama Wikrama Wardhana. Tokoh tersebut merupakan salah satu penguasa Majapahit pada periode akhir abad ke-14 hingga awal abad ke-15.
Wikrama Wardhana memiliki posisi penting dalam sejarah Majapahit. Setelah wafatnya Hayam Wuruk, kerajaan menghadapi persoalan suksesi yang kemudian berkembang menjadi konflik besar yang dikenal sebagai Perang Paregreg.

