Home / Budaya & Sejarah / Candi Miri Gambar Tulungagung, Jejak Majapahit yang Tertutup Mitos Angling Darmo

Candi Miri Gambar Tulungagung, Jejak Majapahit yang Tertutup Mitos Angling Darmo

Candi Mirigambar di Tulungagung, salah satu peninggalan bersejarah yang menyimpan jejak masa lalu dan menjadi bagian penting dari warisan budaya Jawa Timur.
Candi Mirigambar di Tulungagung, salah satu peninggalan bersejarah yang menyimpan jejak masa lalu dan menjadi bagian penting dari warisan budaya Jawa Timur.

Sejumlah angka tahun yang ditemukan pada peninggalan di kawasan Miri Gambar, antara lain 1373, 1388 dan 1400 Masehi, menarik perhatian karena berada dalam rentang masa yang berkaitan dengan periode pemerintahan Wikrama Wardhana.

Bangunan Bata Merah dengan Relief yang Kaya

Candi Miri Gambar mempunyai karakter arsitektur yang cukup khas. Material utamanya berupa bata merah, dengan beberapa bagian menggunakan batu andesit.

Bangunan yang tersisa saat ini terutama berupa bagian kaki dan sebagian tubuh candi. Bagian atasnya sudah tidak lengkap sehingga bentuk keseluruhan bangunan pada masa lalu tidak dapat dilihat secara utuh.

Pada sisi barat terdapat tangga menuju bagian atas candi. Area tersebut memiliki ornamen yang cukup menarik, termasuk elemen dekoratif dan arca penjaga yang kondisinya kini sudah tidak lengkap.

Keunikan Candi Miri Gambar tidak hanya terlihat dari bentuk bangunannya. Relief yang ditemukan di kawasan tersebut justru menjadi salah satu petunjuk penting untuk membaca kehidupan budaya masyarakat pada masa lalu.

Beberapa relief yang masih tersisa maupun artefak yang ditemukan di sekitar situs menunjukkan adanya cerita yang berkembang dalam kesusastraan Jawa Kuno dan Jawa Tengahan.

Candi dengan Kisah Tantri Kamandaka

Salah satu cerita yang dikaitkan dengan relief di Candi Miri Gambar adalah Tantri Kamandaka.

Cerita tersebut berbentuk fabel dengan tokoh-tokoh binatang dan membawa pesan moral. Salah satu kisahnya menceritakan seekor burung bangau yang tampil sebagai sosok spiritual dan mendapatkan kepercayaan dari sekumpulan ikan.

Bangau tersebut mengatakan bahwa tempat tinggal para ikan akan menghadapi ancaman nelayan. Ia kemudian menawarkan diri untuk membawa ikan-ikan tersebut ke tempat yang dianggap lebih aman.

Para ikan percaya dan satu per satu bersedia dibawa. Namun, ternyata keselamatan yang dijanjikan hanyalah tipu muslihat. Ikan-ikan tersebut justru dimakan oleh sang bangau.

Ketika seekor ketam mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, ia berusaha menyelamatkan dirinya. Dalam perjalanan, ketam melihat bukti bahwa ikan-ikan sebelumnya telah dimangsa. Ia kemudian melawan dan berhasil menyingkirkan bangau tersebut.

Relief Burung Bukan Bukti Angling Darmo

Salah satu relief burung di kawasan Candi Miri Gambar kemudian dikaitkan dengan cerita Angling Darmo.

Di tengah masyarakat, relief tersebut pernah dipercaya menggambarkan burung belibis yang merupakan jelmaan Angling Darmo. Namun, dalam penafsiran yang dibahas dalam penelusuran tersebut, relief itu justru dianggap lebih berkaitan dengan cerita burung bangau dalam Tantri Kamandaka.

Detail seperti ikat kepala pada kepala burung menjadi salah satu petunjuk yang menarik. Gambaran serupa juga disebut terdapat pada relief Candi Jago.

Perbedaan penafsiran ini menunjukkan bahwa sebuah relief dapat memperoleh makna baru ketika dibaca oleh masyarakat dari generasi yang berbeda.

Cerita rakyat kemudian dapat melekat begitu kuat hingga dianggap sebagai bagian dari sejarah situs. Padahal, untuk memastikan makna sebuah relief, diperlukan perbandingan dengan relief lain, sumber tertulis, konteks arkeologi, serta penelitian yang lebih mendalam.

Ada Jejak Cerita Panji

Selain Tantri Kamandaka, Candi Miri Gambar juga menyimpan relief yang dikaitkan dengan cerita Panji.

Cerita Panji merupakan salah satu kisah yang berkembang luas di Jawa dan bahkan menyebar ke berbagai wilayah Asia Tenggara. Ceritanya banyak berkaitan dengan perjalanan bangsawan, penyamaran, percintaan, perpisahan, dan usaha menemukan kembali pasangan.

Tokoh utama dalam cerita Panji sering tampil menggunakan identitas yang berbeda dari status sebenarnya. Seorang pangeran bisa menyamar sebagai orang biasa untuk menjalani perjalanan atau mencari pasangan.

Kisah seperti ini menunjukkan bahwa seni relief pada masa lalu tidak hanya mengangkat tema keagamaan. Cerita tentang kehidupan manusia, hubungan sosial, percintaan, kepahlawanan, hingga pesan moral juga menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat.

Garuda dan Dugaan Fungsi Ritual

Petunjuk lain yang menarik adalah keberadaan unsur Garuda di kawasan candi.

Dalam tradisi Hindu-Buddha di Jawa, Garuda mempunyai posisi penting dalam berbagai cerita keagamaan. Salah satunya adalah kisah Garuda yang berusaha memperoleh Tirta Amerta demi membebaskan ibunya, Dewi Winata.

Traktir Kopi Penulis

Suka dengan tulisan Dwi Lestari? Dukung penulis dengan secangkir kopi.

×

Traktir Kopi Dwi Lestari

Nominal dukungan: Rp10.000

QRIS Traktir Kopi Dwi Lestari

Scan QRIS menggunakan DANA atau aplikasi pembayaran yang mendukung QRIS. Masukkan nominal sesuai pilihan di atas.

Download QRIS
×

Traktir Kopi Dwi Lestari

Nominal dukungan: Rp20.000

QRIS Traktir Kopi Dwi Lestari

Scan QRIS menggunakan DANA atau aplikasi pembayaran yang mendukung QRIS. Masukkan nominal sesuai pilihan di atas.

Download QRIS
×

Traktir Kopi Dwi Lestari

Nominal dukungan: Rp30.000

QRIS Traktir Kopi Dwi Lestari

Scan QRIS menggunakan DANA atau aplikasi pembayaran yang mendukung QRIS. Masukkan nominal sesuai pilihan di atas.

Download QRIS
×

Traktir Kopi Dwi Lestari

Nominal dukungan: Rp40.000

QRIS Traktir Kopi Dwi Lestari

Scan QRIS menggunakan DANA atau aplikasi pembayaran yang mendukung QRIS. Masukkan nominal sesuai pilihan di atas.

Download QRIS
×

Traktir Kopi Dwi Lestari

Nominal dukungan: Rp50.000

QRIS Traktir Kopi Dwi Lestari

Scan QRIS menggunakan DANA atau aplikasi pembayaran yang mendukung QRIS. Masukkan nominal sesuai pilihan di atas.

Download QRIS