PatriaPos Indonesia | Portal Media Independen Terkini & Terpercaya

Guntur Wahono Ajak Kader dan Generasi Muda di Blitar Kembali ke Ruh Pancasila: “Jangan Lupa Siapa Kita!”

Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi PDI Perjuangan, Guntur Wahono, saat menyampaikan materi dalam kegiatan sosialisasi penguatan ideologi Pancasila di Balai Dukuh Sekargadung, Desa Balerejo, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar, Selasa (28/10/2025).
Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi PDI Perjuangan, Guntur Wahono, saat menyampaikan materi dalam kegiatan sosialisasi penguatan ideologi Pancasila di Balai Dukuh Sekargadung, Desa Balerejo, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar, Selasa (28/10/2025).

BLITAR — Semangat nasionalisme kembali bergema di pelosok selatan Kabupaten Blitar. Selasa (28/10/2025), Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Jawa Timur, Guntur Wahono, kembali turun langsung ke masyarakat untuk menggelar sosialisasi penguatan ideologi Pancasila bagi generasi muda.

Kegiatan kali ini berlangsung di Balai Dukuh Sekargadung, Desa Balerejo, Kecamatan Panggungrejo, dan dihadiri ratusan peserta dari berbagai kalangan—mulai dari pengurus partai tingkat ranting, PAC, tokoh masyarakat, hingga pemuda dari wilayah Panggungrejo, Binangun, dan Wates.

Sejak awal acara, suasana tampak hangat dan penuh semangat. Di tengah sorak dukungan dan diskusi yang hidup, Guntur Wahono tampil bukan hanya sebagai politisi, tetapi juga sebagai pendidik bangsa yang mencoba menyapa kesadaran ideologis masyarakat akar rumput.

“Pancasila itu bukan sekadar hafalan lima sila. Ia adalah napas kita, karakter kita, dan dasar pijakan untuk berpikir serta bertindak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” tegas Guntur membuka paparannya.

Menyalakan Kembali Api Nasionalisme di Akar Rumput

Dalam forum yang berlangsung hampir dua jam tersebut, Guntur mengajak peserta untuk memahami makna Pancasila dalam konteks kekinian. Menurutnya, di tengah derasnya arus globalisasi dan pertarungan ideologi, generasi muda harus memiliki benteng nilai yang kuat agar tidak mudah terombang-ambing oleh pengaruh luar.

“Sekarang banyak anak muda yang hafal tren TikTok, tapi lupa sila pertama. Banyak yang cerdas digital tapi miskin karakter. Nah, tugas kita adalah menyalakan kembali api nasionalisme di hati mereka,” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin.

Ia juga menekankan pentingnya menanamkan nilai gotong royong, keadilan sosial, dan semangat kebangsaan sejak dini, baik melalui pendidikan formal maupun kegiatan sosial kemasyarakatan.

Dialog Dua Arah: Dari Ideologi ke Aspirasi Rakyat

Tidak seperti acara formal pada umumnya, forum tersebut berjalan interaktif. Para kader dan warga tampak aktif menyampaikan pendapat dan aspirasi mereka secara langsung kepada Guntur Wahono.

Beberapa usulan konkret mencuat, antara lain pengadaan sumur bor untuk pertanian guna mengatasi kekeringan yang kerap melanda kawasan Blitar selatan, pengadaan mobil siaga desa, serta penguatan pendidikan moral Pancasila di lingkungan masyarakat.

Tak hanya itu, muncul pula kritik internal dari kader partai di tingkat ranting terkait tumpang tindihnya tugas struktural serta harapan agar kader di lapisan bawah lebih dilibatkan dalam perencanaan dan pelaksanaan program partai.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Guntur mengapresiasi keterbukaan peserta dan menegaskan bahwa masukan dari akar rumput adalah bahan berharga dalam merumuskan kebijakan publik maupun strategi partai ke depan.

“Inilah roh demokrasi Pancasila. Kita mendengar, kita berdialog, dan kita berjuang bersama rakyat. Jangan pernah ada jarak antara wakil rakyat dengan yang diwakili,” ujar Guntur menegaskan.

Pancasila Sebagai Kompas Moral Politik

Dalam kesempatan itu, Guntur juga menyinggung soal tantangan ideologi di tengah era disrupsi informasi. Ia menilai, banyak pihak yang secara tidak sadar mulai mengikis nilai-nilai kebersamaan dan menggantinya dengan sikap individualistis.

“Politik itu bukan soal siapa yang menang atau kalah, tapi bagaimana kita menjaga nilai kebersamaan yang berakar pada Pancasila. Kalau semua pihak berpegang pada moral politik Pancasila, maka politik akan menjadi jalan pengabdian, bukan arena perebutan kekuasaan,” ucapnya.

Ia pun mengingatkan bahwa kader PDI Perjuangan harus menjadi teladan dalam mengamalkan nilai-nilai ideologis tersebut di tengah masyarakat.

Kader Muda Jadi Harapan

Kehadiran para pemuda dalam acara itu menjadi perhatian tersendiri bagi Guntur. Ia menyebut bahwa regenerasi ideologis adalah kunci menjaga keberlanjutan bangsa.

“Kader muda harus paham, perjuangan tidak selalu dengan bendera dan teriakan. Perjuangan bisa lewat kerja nyata, lewat ketulusan mengabdi, lewat menjaga nilai-nilai Pancasila di lingkungannya masing-masing,” tandasnya.

Ia pun mengajak seluruh peserta agar tidak berhenti hanya pada tataran wacana, melainkan melanjutkan semangat Pancasila dalam tindakan nyata di lapangan—baik melalui kegiatan sosial, pendidikan, maupun ekonomi kerakyatan.

Antusiasme dan Harapan

Menjelang akhir acara, suasana kian akrab. Banyak peserta menyampaikan kesan positif terhadap forum yang dianggap menyegarkan dan inspiratif.

“Saya senang karena Pak Guntur tidak hanya datang untuk pidato, tapi benar-benar mendengarkan kami. Ini baru wakil rakyat yang membumi,” ujar Sutini, salah satu peserta dari Desa Panggungrejo.

Acara kemudian ditutup dengan pembacaan doa dan yel-yel semangat Pancasila yang menggema di seluruh ruangan.

Melalui kegiatan ini, Guntur Wahono kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga Pancasila sebagai dasar ideologi bangsa sekaligus panduan moral dalam berpolitik dan bermasyarakat. Ia berharap semangat itu terus menyala di setiap jiwa rakyat Blitar, terutama generasi muda yang akan menjadi penerus perjuangan bangsa.

“Kalau Pancasila hidup di hati rakyat, maka Indonesia akan kuat selamanya,” pungkas Guntur menutup kegiatan dengan lantang.