Blitar – Dibawah rindangnya pepohonan di halaman Istana Gebang, rumah masa kecil Bung Karno, Rabu (1/10/2025)) sore itu tak seperti biasanya.
Kursi-kursi plastik tersusun sederhana, sebagian petani memilih duduk. Wajah-wajah mereka tampak serius namun sesekali tersenyum, ketika Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Jawa Timur, Erma Susanti, mengajak mereka berbincang.
Pertemuan ini bukan sekadar diskusi biasa. Pasalnya digelar untuk memperingati Hari Tani Nasional, sebuah momen bersejarah yang lahir dari keputusan Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, pada 24 September 1960. Lokasi pertemuan pun terasa sangat simbolis: rumah masa kecil Sang Proklamator, yang dikenal sebagai bapak bangsa sekaligus pejuang kaum marhaen.
“Hari Tani bukan hanya seremoni. Ini momentum untuk mendengar suara petani dan merumuskan langkah agar mereka benar-benar sejahtera,” ucap Erma membuka diskusi.
Kunci Kedaulatan Pangan
Dalam dialog itu, Erma menegaskan bahwa kedaulatan pangan tidak bisa hanya diukur dari tingginya produksi padi atau jagung. Ada tiga hal pokok yang harus menjadi pijakan bangsa: produktivitas, kesejahteraan petani, dan keberlanjutan.
“Produktivitas memang penting. Jawa Timur saat ini sudah unggul produksi padi dibanding Jawa Tengah. Tapi kalau produksinya naik sementara petaninya masih merugi, ya percuma. Itu artinya negara belum hadir sepenuhnya,” tegasnya.
Ia mencontohkan, pupuk sebagai modal utama petani sering kali justru menjadi persoalan besar: langka, mahal, dan tak sebanding dengan hasil panen. Padahal, pupuk adalah nafas utama bagi keberlangsungan usaha tani.
“Kalau biaya saprodi tinggi, sementara harga gabah jatuh, petani tidak pernah untung. Yang ada mereka menanggung rugi. Negara harus hadir memastikan pupuk tersedia, bibit mudah didapat, dan harga gabah terjaga,” katanya.
Lebih dari Sekadar Panen
Diskusi semakin hidup ketika beberapa petani menyampaikan uneg-uneg. Ada yang mengeluhkan pupuk, ada yang menyinggung soal harga gabah yang kerap anjlok saat panen raya. Erma mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk, sesekali menimpali dengan catatan.
Ia menekankan, petani tidak boleh berhenti di proses panen saja. Harus ada nilai tambah yang bisa mereka dapatkan lewat pengolahan pasca panen.
“Kalau petani bisa mengolah gabah jadi beras kemasan, atau bahkan produk turunan lain, nilainya jauh lebih besar. Jangan berhenti di menjual gabah. Kita harus dorong petani naik kelas,” paparnya.
Menjaga Lahan untuk Masa Depan
Selain soal kesejahteraan, Erma juga mengingatkan pentingnya keberlanjutan. Menurutnya, jika lahan terus dipaksa dengan pupuk kimia, pada akhirnya produktivitas akan menurun dan lingkungan ikut rusak. Karena itu, petani perlu mulai dikenalkan dengan pertanian organik.
“Petani bisa mulai belajar membuat pupuk organik sendiri. Dengan begitu, tanah tetap subur, udara lebih bersih, dan hasil pertanian juga lebih sehat. Kalau kita terlalu bergantung pada pupuk kimia, justru merusak masa depan kita sendiri,” ujarnya.
Refleksi di Rumah Bung Karno
Diskusi sore itu ditutup dengan suasana yang penuh kehangatan. Para petani pulang membawa catatan dan harapan baru, sementara Erma menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan suara mereka di tingkat kebijakan.
Di rumah Bung Karno, pesan tentang perjuangan kaum tani terasa menemukan makna baru. Bahwa kedaulatan pangan bukan sekadar soal beras melimpah, melainkan bagaimana petani yang menjadi tulang punggung bangsa benar-benar bisa hidup sejahtera.
“Tiga hal yang harus kita tegakkan: produktivitas, kesejahteraan petani, dan keberlanjutan. Kalau itu bisa kita lakukan, barulah kita bisa bicara kedaulatan pangan yang sejati,” pungkas Erma.





