Home / Budaya & Sejarah / Makam Syekh Mudzakir di Tengah Laut Demak, Kisah Ulama dan Jejak Abrasi Pesisir yang Menarik Peziarah

Makam Syekh Mudzakir di Tengah Laut Demak, Kisah Ulama dan Jejak Abrasi Pesisir yang Menarik Peziarah

Pemandangan makam Syekh Abdullah Mudzakir (Mbah Mudzakir) yang berada di tengah perairan pesisir Demak, Jawa Tengah.
Pemandangan makam Syekh Abdullah Mudzakir (Mbah Mudzakir) yang berada di tengah perairan pesisir Demak, Jawa Tengah.

PatriaPos.Com – Sebuah makam yang terletak di pesisir utara Kabupaten Demak, Jawa Tengah, menampilkan pemandangan yang berbeda.

Berada di Dusun Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, makam Syekh Abdullah Mudzakir, atau yang akrab disapa Mbah Mudzakir oleh masyarakat, kini terletak di tengah perairan. Untuk sampai ke sana, peziarah harus menempuh perjalanan ke pesisir dan melanjutkan dengan perahu.

Keberadaan makam ini menjadi daya tarik karena dulunya berada di daratan, namun kini dikelilingi oleh hamparan air.

Pemerintah Kabupaten Demak sendiri telah menetapkan Makam Terapung Syekh Mudzakir sebagai salah satu destinasi wisata religi unggulan di Desa Wisata Bedono. Kawasan ini dikenal luas sebagai wilayah yang tangguh menghadapi persoalan abrasi, hingga mendapat julukan unik sebagai “Kampung Teles” (Kampung Basah).

Dahulu Berada di Daratan, Kini Dikelilingi Perairan

Kecamatan Sayung terletak di bagian barat Kabupaten Demak, Jawa Tengah, berbatasan dengan Kota Semarang di baratnya. Wilayah ini terletak di pesisir utara Jawa yang menghadap ke Laut Jawa.

Berdasarkan arsip sejarah, dahulu Dusun Tambaksari, Desa Bedono, adalah kawasan daratan yang dihuni oleh masyarakat. Di kawasan daratan tersebut terdapat Makam Mbah Mudzakir. Namun, seiring waktu, genangan rob ( banjir akibat air laut pasang)
dan abrasi menyebabkan perubahan dan mengikis wilayah pesisir.

Perubahan tersebut juga akhirnya mempengaruhi rumah-rumah, jalan, lahan, dan fasilitas masyarakat di kawasan pesisir. Daratan yang dulu digunakan untuk kegiatan sehari-hari kini sering tergenang air, sementara garis pantai terus bergeser.

Kendati demikian, Makam Mbah Mudzakir tetap bertahan di tengah perubahan tersebut. Walaupun sekitarnya telah terendam air, area makam masih dapat dikunjungi oleh masyarakat dan dikenal sebagai Makam Terapung Syekh Mudzakir.

Sebutan “terapung” merupakan istilah yang digunakan oleh masyarakat pesisir karena meskipun berada di daerah terendam air, makam tersebut tetap berada di area yang terlindungi dan tidak ikut tergerus atau tenggelam seperti kawasan sekitarnya.

Traktir Kopi Penulis

Suka dengan tulisan Dwi Lestari? Dukung penulis dengan secangkir kopi.

×

Traktir Kopi Dwi Lestari

Nominal dukungan: Rp10.000

QRIS Traktir Kopi Dwi Lestari

Scan QRIS menggunakan DANA atau aplikasi pembayaran yang mendukung QRIS. Masukkan nominal sesuai pilihan di atas.

Download QRIS
×

Traktir Kopi Dwi Lestari

Nominal dukungan: Rp20.000

QRIS Traktir Kopi Dwi Lestari

Scan QRIS menggunakan DANA atau aplikasi pembayaran yang mendukung QRIS. Masukkan nominal sesuai pilihan di atas.

Download QRIS
×

Traktir Kopi Dwi Lestari

Nominal dukungan: Rp30.000

QRIS Traktir Kopi Dwi Lestari

Scan QRIS menggunakan DANA atau aplikasi pembayaran yang mendukung QRIS. Masukkan nominal sesuai pilihan di atas.

Download QRIS
×

Traktir Kopi Dwi Lestari

Nominal dukungan: Rp40.000

QRIS Traktir Kopi Dwi Lestari

Scan QRIS menggunakan DANA atau aplikasi pembayaran yang mendukung QRIS. Masukkan nominal sesuai pilihan di atas.

Download QRIS
×

Traktir Kopi Dwi Lestari

Nominal dukungan: Rp50.000

QRIS Traktir Kopi Dwi Lestari

Scan QRIS menggunakan DANA atau aplikasi pembayaran yang mendukung QRIS. Masukkan nominal sesuai pilihan di atas.

Download QRIS