BLITAR – Suasana penuh makna terasa di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kabupaten Blitar ketika berlangsung penyerahan Remisi Umum dan Remisi Dasawarsa dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus satu dekade berdirinya LPKA.
Acara yang digelar secara khidmat itu dihadiri Bupati Blitar Rijanto bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), perwakilan instansi terkait, serta DPRD Kabupaten Blitar. Dari unsur legislatif, hadir Angga Adi Wangsa, S.H., M.Kn., Wakil Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Blitar, yang memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
Menurut Angga, pemberian remisi bukan sekadar pengurangan masa pidana, melainkan sebuah penghargaan negara atas usaha perbaikan diri dari warga binaan.
“Remisi ini harus dipandang sebagai simbol penghargaan kepada mereka yang mau berproses dan menunjukkan perilaku baik. Negara hadir memberi kesempatan kedua untuk memperbaiki diri,” ungkapnya, Sabtu (16/8/2025).
Penyerahan remisi sendiri menjadi momen penting bagi warga binaan LPKA. Selain memberikan semangat baru, kebijakan ini juga mempertegas komitmen pemerintah dalam menjalankan sistem pemasyarakatan yang lebih humanis. Bagi Angga, pendekatan seperti ini harus terus diperkuat karena menyangkut masa depan anak-anak yang sedang dibina.
“Anak didik pemasyarakatan bukanlah orang yang selesai masa depannya. Justru di sinilah kita punya tanggung jawab moral untuk membentuk karakter mereka, menanamkan disiplin, dan membuka jalan agar kelak bisa mandiri ketika kembali ke masyarakat,” jelas Angga.
Peringatan satu dekade LPKA Blitar pun menjadi momentum refleksi. Selama sepuluh tahun, lembaga ini berupaya menjalankan fungsi pembinaan dan pendidikan, dengan fokus pada pembentukan karakter serta kemandirian anak binaan. Kegiatan peringatan Dasawarsa ini diharapkan menjadi evaluasi sekaligus pendorong semangat baru bagi seluruh jajaran.
Angga menambahkan, keberhasilan pembinaan di LPKA tidak bisa dilepaskan dari kerja sama berbagai pihak, mulai dari petugas lapas, pemerintah daerah, hingga dukungan legislatif.
“Saya percaya, ketika semua elemen bergerak bersama, hasilnya akan nyata. Kita tidak hanya bicara pengurangan masa pidana, tetapi bagaimana anak-anak ini benar-benar mendapatkan bekal hidup yang lebih baik,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Angga juga mengingatkan pentingnya menjaga kesinambungan program pembinaan agar tidak berhenti sebatas seremonial. Menurutnya, konsistensi merupakan kunci dalam membentuk karakter anak binaan.
“Kegiatan seperti ini harus diikuti dengan langkah nyata setiap hari. Pendidikan, pelatihan keterampilan, dan bimbingan moral adalah pondasi utama. Tanpa kesinambungan, sulit mewujudkan tujuan besar yang kita cita-citakan,” pungkasnya.





