PatriaPos Indonesia | Portal Media Independen Terkini & Terpercaya

PDIP Blitar Jadikan Pendidikan Politik sebagai Gerakan Kebudayaan: Bangkitkan Lagi Tata Krama Jawa di Tengah Generasi Digital

Sugeng Suroso menghadiri seminar PDIP Blitar yang menyoroti pendidikan karakter dan penguatan nilai budaya Jawa.
Sugeng Suroso menghadiri seminar PDIP Blitar yang menyoroti pendidikan karakter dan penguatan nilai budaya Jawa.

BLITAR – DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar menghadirkan pendekatan berbeda dalam pendidikan politik kader. Tidak sekadar membahas strategi organisasi atau persiapan menghadapi Pemilu, PDIP justru menjadikan pendidikan karakter sebagai materi utama dalam seminar yang digelar di Gedung LEC Garum, Kecamatan Garum, Rabu (19/11/2025).

Bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar, seminar tersebut mengulik kembali nilai-nilai yang diajarkan Ki Hajar Dewantara nilai yang dinilai semakin pudar di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan budaya digital.

Pendidikan Politik Bukan Hanya Soal Pemilu

Bendahara DPC PDIP Kabupaten Blitar, Sugeng Suroso, menegaskan bahwa partai politik tidak boleh hanya fokus pada urusan elektoral. Menurutnya, kader partai adalah bagian dari masyarakat dan harus dibekali karakter serta etika sosial sebelum terjun langsung ke lapangan.

“Pendidikan politik itu bukan sekadar mengasah kemampuan menghadapi kontestasi. Yang lebih penting adalah membangun karakter. Karena kader nanti hidup dan berbaur dengan masyarakat, bukan hanya hadir saat Pemilu,” ujar Sugeng.

Oleh karena itu, PDIP memulai penguatan karakter ini dari internal pengurus DPC, PAC, ranting, hingga generasi muda dari kalangan mahasiswa yang turut diundang.

Krisis Tata Krama dan Lunturya Nilai Kejawen

Sugeng menilai, gejolak sosial yang terjadi belakangan ini tidak lepas dari melemahnya budaya saling menghormati. Ia menyebut, fenomena sederhana seperti anak-anak yang berbicara ngoko kepada guru adalah bukti nyata bahwa etika dan unggah-ungguh mengalami kemunduran.

“Zaman dulu anak SD itu begitu hormatnya pada guru. Datang sambil membawakan tas, bicara pakai krama inggil. Sekarang suasananya sudah jauh berubah. Ini bukan salah anak-anak semata, tetapi karena pendidikan karakter tersisihkan oleh budaya digital yang serba cepat,” jelasnya.

Ia menilai, Ki Hajar Dewantara telah memberikan fondasi kuat tentang bagaimana manusia Indonesia seharusnya dibentuk. Filosofinya Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani bukan sekadar slogan, tetapi pedoman hidup yang mengatur relasi sosial, kepemimpinan, dan moralitas.

PDIP Ambil Peran: Pendidikan sebagai Gerakan Kebudayaan

Sugeng menegaskan bahwa PDIP sebagai partai dengan akar historis budaya nasional merasa wajib mengambil peran dalam mengembalikan karakter bangsa. Seminar ini menjadi salah satu upaya konkret untuk menempatkan pendidikan sebagai gerakan kebudayaan, bukan hanya program formal.

“Ini bukan sekadar training. Ini gerakan mengangkat kembali jati diri bangsa. Kalau kader paham nilai-nilai luhur itu, mereka bisa menularkannya ke masyarakat,” imbuhnya.

Ia juga menekankan bahwa di tengah perkembangan global, masyarakat Indonesia harus memiliki “pondasi karakter” yang kuat agar tidak hanyut oleh budaya yang datang dari luar.

PDIP Blitar Jadikan Pendidikan Politik sebagai Gerakan Kebudayaan: Bangkitkan Lagi Tata Krama Jawa di Tengah Generasi Digital - Patriapos

Kader Dilatih Jadi Teladan Sosial

Melalui seminar ini, PDIP ingin mencetak kader yang mampu menjadi contoh nyata di lingkungan masing-masing. Dengan memahami kembali nilai kejawen dan falsafah Ki Hajar Dewantara, kader diharapkan dapat menjadi penggerak perubahan sosial, mulai dari hal kecil seperti tata krama dalam keluarga hingga kehidupan berorganisasi.

“Kalau karakter itu hidup, maka kehidupan bermasyarakat akan lebih harmonis. Itulah yang ingin kami bangun,” kata Sugeng.

Partisipasi Mahasiswa dan Penguatan SDM

Selain kader partai, beberapa mahasiswa turut mengikuti sesi ini. Sugeng menyebut kehadiran mereka sebagai langkah positif untuk menjembatani dunia politik dan dunia pendidikan.

“Kami sengaja mengundang mahasiswa, karena mereka generasi intelektual yang nanti menjadi pemimpin. Mereka perlu memahami bagaimana karakter bangsa harus dijaga,” ucapnya.

Melalui kegiatan ini, PDIP Blitar berharap penguatan SDM bukan sekadar menjadi slogan, tetapi menjadi gerakan nyata yang dimulai dari internal partai dan meluas ke masyarakat.

Arah Baru Pendidikan Politik PDIP

Dengan menjadikan pendidikan karakter sebagai titik berat, PDIP Kabupaten Blitar memperkenalkan wajah baru pendidikan politik: bukan hanya soal kemenangan, tetapi tentang menata kembali budaya bangsa.

Seminar ini menjadi semacam seruan agar seluruh elemen masyarakat kembali menengok akar nilai yang telah ditanamkan oleh Ki Hajar Dewantara nilai yang jika dijaga, akan menjadi tameng di tengah derasnya perubahan zaman.