PatriaPos Indonesia | Portal Media Independen Terkini & Terpercaya

Kaisar Qianlong Tiongkok dengan 3 Permaisuri dan 40 Selir: Dari Puncak Kejayaan Hingga Tragedi Makam Yuling

Potret Kaisar Qianlong dengan jubah kekaisaran kuning berhias naga, melambangkan kemegahan dan kekuasaan Dinasti Qing. Sumber: Palace Museum, Beijing (Public Domain, Wikimedia Commons)
Potret Kaisar Qianlong dengan jubah kekaisaran kuning berhias naga, melambangkan kemegahan dan kekuasaan Dinasti Qing. Sumber: Palace Museum, Beijing (Public Domain, Wikimedia Commons)

Misteri Mantra Buddha

Selain kisah penjarahan, Yuling tetap menyimpan teka-teki besar. Mantra Buddha yang dipahat di dinding bawah tanah menjadi perhatian para sejarawan.

Diperkirakan berjumlah 30.000 aksara, ukiran ini menggunakan bahasa Tibet dan Sanskerta, bahasa sakral yang kompleks. Hingga kini, para peneliti belum sepenuhnya mampu menguraikan makna ukiran tersebut.

Ada yang menduga itu adalah doa perlindungan untuk arwah sang kaisar, ada pula yang menganggapnya sebagai simbol ambisi Qianlong untuk menyatukan kebudayaan Tiongkok, Tibet, dan Mongolia di bawah panji Qing.

Misteri ini menjadikan Yuling lebih dari sekadar makam, melainkan sebuah teka-teki spiritual dan politik.

Cerita tentang makam Qianlong memperlihatkan ironi sejarah. Seorang kaisar yang membawa Tiongkok menuju kejayaan, akhirnya harus menerima kenyataan bahwa peristirahatan terakhirnya ternoda oleh keserakahan rakyatnya.

Penjarahan, kehilangan artefak budaya, dan misteri yang belum terpecahkan menjadikan makam ini sebagai simbol keserakahan.

Kini, Yuling masih berdiri sebagai salah satu kompleks pemakaman terpenting di Tiongkok. Meski telah rusak parah, situs ini tetap menjadi objek penelitian, ziarah budaya, sekaligus pengingat bahwa sejarah tidak hanya berisi kejayaan, tetapi juga luka yang membekas.