PatriaPos.Com – Situasi kemanusiaan di Gaza kini memasuki fase paling kritis sejak konflik kembali berkecamuk.
“Lebih dari setengah juta warga Gaza berada di ambang kelaparan, dan angka malnutrisi akut pada anak melonjak empat kali lipat hanya dalam dua bulan terakhir,” ujar juru bicara PBB seperti dikutip The Guardian, Rabu, (13/8).
Data resmi menunjukkan hingga akhir Juli 2025, sedikitnya 227 orang, termasuk 103 anak, meninggal akibat kelaparan dan malnutrisi. Sebanyak 166 kematian terjadi hanya dalam enam minggu terakhir.
Krisis ini diperparah oleh minimnya pasokan bantuan. Rata-rata, hanya 28 truk bantuan yang diizinkan masuk setiap hari—jauh dari kebutuhan minimum bagi lebih dari 2,1 juta penduduk Gaza.
Infrastruktur vital hampir seluruhnya lumpuh: lebih dari 84% fasilitas kesehatan rusak atau hancur, pasokan obat-obatan dan peralatan medis menipis, sementara sistem air bersih dan sanitasi runtuh. Kondisi ini memicu kematian tambahan, terutama di kalangan anak-anak dan lansia.
Tragisnya, upaya warga untuk mendapatkan bantuan pun sering berujung maut. Sejak Mei 2025, lebih dari 1.600 orang tewas dan hampir 12.000 lainnya terluka saat mengantre di pusat distribusi makanan.
Menanggapi situasi ini, 25 menteri luar negeri dari berbagai negara, termasuk Inggris, Australia, Jepang, dan Prancis, menyerukan “banjir bantuan kemanusiaan” ke Gaza.
Mereka menegaskan krisis ini “tak terbayangkan” dan berpotensi menjadi kejahatan kemanusiaan jika akses bantuan terus dihambat.
Seruan serupa datang dari 27 negara lainnya yang meminta Israel memberikan akses penuh dan permanen bagi PBB serta lembaga kemanusiaan.
Sejumlah pemimpin dunia mulai mengambil langkah diplomatik. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengusulkan pembentukan misi perdamaian PBB untuk menstabilkan Gaza sebagai alternatif pendudukan militer.
Pada saat yang sama, Perdana Menteri Selandia Baru mengutuk kebijakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mempertimbangkan pemberian pengakuan kepada negara Palestina.
Netanyahu sendiri menyerukan pembicaraan gencatan senjata, dengan fokus pada pembebasan seluruh sandera secara bersamaan.
Dengan keadaan semakin memburuk, komunitas internasional menekankan pentingnya menghentikan serangan, membuka jalur bantuan kemanusiaan tanpa hambatan, dan memulai negosiasi damai yang berkelanjutan.





