Dalam tutur cerita babad Jawa, Dewi Sekardadu dikisahkan sempat mengidap penyakit misterius yang sulit disembuhkan. Berbagai tabib dan upaya pengobatan telah dikerahkan, namun kondisi sang putri tak kunjung membaik. Di tengah keputusasaan itu, Syekh Maulana Ishaq datang ke wilayah Blambangan dan berhasil menyembuhkan penyakit sang putri.
Hubungan keduanya kemudian berlanjut ke jenjang pernikahan. Dari buah cinta inilah lahir Raden Paku atau Ainul Yaqin, yang dalam sejarah Islam di Jawa dikenal sebagai salah satu Wali Songo.
Direktorat Pelindungan Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi juga mencatat hubungan Syekh Maulana Ishaq, Dewi Sekardadu, dan Sunan Giri dalam narasi jejak penyebaran Islam di tanah Jawa.
Kisah ini pun telah mengakar menjadi bagian dari identitas kebudayaan Banyuwangi. Bahkan, cerita epik tentang Blambangan ini pernah diangkat menjadi tema utama dalam pertunjukan kolosal Gandrung Sewu yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.
Prahara Perpisahan dan Ragam Versi Petilasan
Sayangnya, kisah manis Dewi Sekardadu dan Syekh Maulana Ishaq harus berbenturan dengan realitas politik. Munculnya perbedaan pandangan yang tajam antara Syekh Maulana Ishaq dan pihak Kerajaan Blambangan memaksa sang syekh untuk angkat kaki dari bumi Blambangan.
Sejak momen perpisahan inilah, muncul berbagai versi cerita mengenai perjalanan hidup Dewi Sekardadu yang memicu klaim keberadaan petilasan sang putri di sejumlah daerah di Jawa Timur.
Legenda antara Watu Dodol dan Ki Buyut Jakso
Menariknya, Bukit Watu Dodol sebenarnya menyimpan legenda lain yang sama sekali tidak berkaitan dengan Dewi Sekardadu.
Nama “Watu Dodol” sendiri lebih lekat dengan kisah Ki Buyut Jakso (Ki Jakso), seorang tokoh sakti yang dipercaya berjasa besar dalam babad alas atau pembukaan jalur transportasi di kawasan utara Banyuwangi yang dulunya bermedan ekstrem.

