BANYUWANGI – Kawasan Bukit Watu Dodol di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menyimpan beragam kisah yang berkelindan antara sejarah dan tradisi lisan masyarakat Blambangan. Salah satu yang paling memikat adalah keberadaan situs yang dipercaya memiliki ikatan kuat dengan Dewi Sekardadu dan Syekh Maulana Ishak.
Situs tersebut bertengger di kawasan perbukitan Watu Dodol, tak jauh dari jalur utama menuju Pelabuhan Ketapang. Dari puncaknya, panorama Pantai Watu Dodol dan Selat Bali terhampar indah menghias ketinggian.
Namun di balik keindahan panorama tersebut, terselip sebuah pertanyaan yang hingga kini belum terjawab pasti: benarkah Dewi Sekardadu pernah singgah dan bertapa di Bukit Watu Dodol?
Situs Budaya Syekh Maulana Ishaq dan Dewi Sekardadu
Di kawasan perbukitan tersebut, terdapat sebuah area yang dikenal sebagai Situs Budaya Syekh Maulana Ishaq. Di lokasi ini, berdiri bangunan yang diyakini masyarakat sebagai penanda tempat pertapaan atau petilasan.
Warga setempat tidak hanya mengaitkan tempat ini dengan Syekh Maulana Ishaq, tetapi juga dengan Dewi Sekardadu; dua tokoh yang dalam garis waktu sejarah Jawa Timur memang memiliki hubungan yang sangat erat.
Kendati demikian, papan penanda di lokasi tidak memberikan kepastian mengenai titik spesifik mana yang menjadi tempat bertapa Dewi Sekardadu dan mana yang merupakan jejak Syekh Maulana Ishaq. Bangunan di situs tersebut tampak lebih berfungsi sebagai simbol petilasan.
Secara geografis, perbukitan ini memiliki karakter alam yang khas. Pepohonan rimbun, bongkahan batu besar, dan jalur menanjak menciptakan aura spiritual tersendiri, kontras dengan kawasan wisata Pantai Watu Dodol yang ramai di bawahnya.
Hingga saat ini, sebagian masyarakat masih memanfaatkan kawasan ini untuk aktivitas spiritual. Kegiatan seperti menyepi atau melakukan tirakat selama beberapa hari masih kerap dilakoni oleh sejumlah pengunjung demi mencari ketenangan batin.
Mengenal Sosok Dewi Sekardadu
Dewi Sekardadu merupakan tokoh perempuan yang sangat tersohor dalam tradisi sejarah dan cerita rakyat Jawa Timur. Ia adalah putri dari Prabu Menak Sembuyu, penguasa Kerajaan Blambangan pada abad ke-14 yang secara genealogis merupakan keturunan dari Bhre Wirabhumi (putra Prabu Hayam Wuruk, Raja Kerajaan Majapahit).
Nama besar Dewi Sekardadu juga tidak dapat dipisahkan dari pusaran kisah Syekh Maulana Ishaq (ulama besar dari Samudra Pasai) serta putra mereka, Raden Paku, yang kelak agung dikenal sebagai Sunan Giri.
Dalam tutur cerita babad Jawa, Dewi Sekardadu dikisahkan sempat mengidap penyakit misterius yang sulit disembuhkan. Berbagai tabib dan upaya pengobatan telah dikerahkan, namun kondisi sang putri tak kunjung membaik. Di tengah keputusasaan itu, Syekh Maulana Ishaq datang ke wilayah Blambangan dan berhasil menyembuhkan penyakit sang putri.
Hubungan keduanya kemudian berlanjut ke jenjang pernikahan. Dari buah cinta inilah lahir Raden Paku atau Ainul Yaqin, yang dalam sejarah Islam di Jawa dikenal sebagai salah satu Wali Songo.
Direktorat Pelindungan Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi juga mencatat hubungan Syekh Maulana Ishaq, Dewi Sekardadu, dan Sunan Giri dalam narasi jejak penyebaran Islam di tanah Jawa.
Kisah ini pun telah mengakar menjadi bagian dari identitas kebudayaan Banyuwangi. Bahkan, cerita epik tentang Blambangan ini pernah diangkat menjadi tema utama dalam pertunjukan kolosal Gandrung Sewu yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.
Prahara Perpisahan dan Ragam Versi Petilasan
Sayangnya, kisah manis Dewi Sekardadu dan Syekh Maulana Ishaq harus berbenturan dengan realitas politik. Munculnya perbedaan pandangan yang tajam antara Syekh Maulana Ishaq dan pihak Kerajaan Blambangan memaksa sang syekh untuk angkat kaki dari bumi Blambangan.
Sejak momen perpisahan inilah, muncul berbagai versi cerita mengenai perjalanan hidup Dewi Sekardadu yang memicu klaim keberadaan petilasan sang putri di sejumlah daerah di Jawa Timur.
Legenda antara Watu Dodol dan Ki Buyut Jakso
Menariknya, Bukit Watu Dodol sebenarnya menyimpan legenda lain yang sama sekali tidak berkaitan dengan Dewi Sekardadu.
Nama “Watu Dodol” sendiri lebih lekat dengan kisah Ki Buyut Jakso (Ki Jakso), seorang tokoh sakti yang dipercaya berjasa besar dalam babad alas atau pembukaan jalur transportasi di kawasan utara Banyuwangi yang dulunya bermedan ekstrem.
Dalam cerita rakyat, Ki Buyut Jakso dikisahkan mendobrak batu raksasa yang menghalangi jalan. Istilah watu didodol (batu yang dibongkar atau dipecahkan) itulah yang diyakini menjadi asal-usul nama kawasan Watu Dodol.
Legenda Ki Buyut Jakso ini abadi berkat tradisi Puter Kayun yang dirawat oleh masyarakat Boyolangu. Setiap tanggal 10 Syawal (lebaran ketupat), warga berbondong-bondong melakukan napak tilas menuju Pantai Watu Dodol menggunakan dokar atau kereta kuda tradisional sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah menetapkan Puter Kayun sebagai salah satu warisan tradisi resmi yang terus dilestarikan.

