PatriaPos.Com – Di era digital yang bergerak tanpa henti, anak muda semakin akrab dengan istilah Fear of Missing Out atau FOMO. Fenomena ini menggambarkan rasa takut tertinggal dari orang lain atau sekedar takut ketinggalan tren, informasi, dan pencapaian yang dibagikan di media sosial. Sekilas terlihat sepele, tetapi FOMO diam-diam memengaruhi cara generasi muda berpikir dan bertindak.
Sosial media seakan menjadi panggung besar tempat setiap orang berlomba memamerkan momen terbaiknya. Mulai dari liburan bersama keluarga atau teman, prestasi akademik, sampai hal sederhana seperti nongkrong di kafe. Ketika mereka melihat teman tampil “selalu bahagia” dan “selalu update”, muncul dorongan untuk ikut melakukan hal yang sama. Tidak jarang, mereka merasa hidupnya kurang menarik hanya karena tidak terlihat sesempurna apa yang ditampilkan orang lain di layar.
Kondisi ini membawa dampak nyata, salah satunya pada perilaku konsumtif. Banyak anak muda membeli barang bukan karena diperlukan, tetapi karena FOMO ingin ikut ikutan atau sekedar takut terlihat “ketinggalan zaman”. Tren pakaian berubah cepat, tempat nongkrong yang viral berganti setiap beberapa bulan sekali. Tekanan untuk tetap relevan membuat pengeluaran meningkat tanpa disadari. Pada akhirnya, banyak yang harus mengorbankan tabungan atau kebutuhan lain demi mengikuti tren yang umurnya hanya sebentar.
Selain itu, FOMO juga memberi tekanan psikologis. Melihat pencapaian orang lain dapat menimbulkan perasaan cemas dan merasa tidak puas dengan diri sendiri, meskipun sebenarnya setiap orang memiliki waktu dan jalur hidup yang berbeda. Algoritma media sosial memperparah keadaan dengan terus menampilkan konten “sempurna”. Akibatnya, anak muda mudah merasa tertinggal ketika teman sebayanya terlihat sudah sukses lebih dulu seperti mendapatkan pekerjaan bagus, beli mobil di usia muda, membeli rumah baru, atau sering pergi bolak balik ke luar negeri.
FOMO juga memengaruhi kualitas hubungan sosial. Banyak anak muda hadir secara fisik, tetapi tidak sepenuhnya menikmati momen karena terlalu fokus mengambil foto atau membuat konten untuk di up di media sosial. Nongkrong dengan teman menjadi ajang saling memotret, bukan saling berbicara. Interaksi manusia perlahan menjadi dangkal, digantikan oleh validasi digital berupa likes atau komentar.
Meski begitu, FOMO sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya negatif. Dalam batas tertentu, FOMO bisa memotivasi seseorang untuk berkembang. Misalnya, melihat teman belajar hal baru dapat mendorong kita ikut belajar. Melihat orang lain aktif berolahraga juga bisa memicu semangat untuk hidup sehat. Namun, masalah muncul ketika FOMO berubah menjadi tekanan dan menimbulkan kecemasan berlebih. Saat itulah seseorang perlu berhenti sejenak dan mengevaluasi kembali prioritas hidupnya.
Untuk mengurangi dampak buruk FOMO, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan. Pertama, membatasi konsumsi media sosial. Tidak perlu menghapus, tetapi cukup mengendalikan durasi penggunaannya agar pikiran tidak selalu terpapar kehidupan orang lain. Kedua, belajar memisahkan kebutuhan dan keinginan. Tidak semua tren harus diikuti, dan tidak semua momen harus diunggah. Ketiga, menghargai proses diri sendiri. Setiap orang punya langkah dan waktu yang berbeda, sehingga tidak perlu membandingkan fase hidup dengan orang lain.
Pada akhirnya, kehidupan bukanlah lomba untuk terlihat paling cepat, paling keren, atau paling sukses. Hidup adalah perjalanan panjang yang perlu dinikmati, bukan dikejar habis-habisan. Anak muda perlu menyadari bahwa tidak mengikuti suatu tren bukan berarti tertinggal. Justru dengan hidup lebih tenang, fokus pada diri sendiri, dan tidak terlalu memikirkan penilaian orang lain, mereka bisa menemukan versi terbaik dari dirinya. Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, kemampuan untuk berhenti, bernapas, dan memilih apa yang benar-benar penting adalah bentuk kekuatan tersendiri.
Elshifa Eka Ramadhani, mahasiswi Universitas Bangka Belitung.





