BLITAR – Upaya memperkuat UMKM perikanan di Kabupaten Blitar kembali mendapat dorongan serius. Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Timur, Erma Susanti, menggagas bimbingan teknis (bimtek) kewirausahaan sekaligus penyaluran bantuan alat produksi untuk pelaku usaha pengolahan ikan, Selasa (21/4/2026).
Program ini melibatkan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur serta pemerintah daerah, dengan sasaran kelompok pengolah dan pemasar (Poklahsar) di tiga desa, yakni Tlogo, Ringinrejo, dan Tawangrejo.
Melalui langkah ini, Erma ingin memastikan pelaku UMKM mampu berkembang lebih optimal, meningkatkan kualitas produk, dan memperluas jangkauan pasar, termasuk ke program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam kegiatan yang digelar di Kantor Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar tersebut, Erma menegaskan bahwa penguatan sektor perikanan harus dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga mencakup inovasi, standar kualitas, hingga strategi pemasaran.
“Kita ingin UMKM perikanan di Blitar naik kelas. Produk olahan ikan harus punya daya saing dan bisa masuk pasar yang lebih luas, termasuk mendukung program MBG,” ujarnya.
Menurutnya, potensi ikan sebagai sumber protein masih belum dimanfaatkan secara optimal dalam rantai pasok program tersebut. Padahal, kandungan gizi ikan seperti protein dan Omega-3 sangat penting untuk mendukung pertumbuhan anak.
“Ikan itu salah satu sumber protein terbaik. Ini peluang besar bagi pelaku usaha perikanan untuk ikut berkontribusi sekaligus meningkatkan pendapatan,” tambahnya.
Sebagai bagian dari strategi, peserta bimtek tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga akan diajak belajar langsung dari pelaku usaha yang telah sukses menembus pasar MBG, seperti pengusaha filet lele.
Erma juga mendorong agar kebutuhan bahan baku program MBG di wilayah Blitar dapat dipenuhi dari produksi lokal. Dengan ratusan titik pelaksanaan program tersebut, peluang pasar dinilai sangat besar jika dimanfaatkan secara maksimal oleh pelaku usaha setempat.
“Kalau kebutuhan pangan bisa dipenuhi dari daerah sendiri, maka ekonomi lokal akan bergerak lebih cepat. Ini yang kita dorong bersama,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar, Hery Widiatmoko, menyambut positif inisiatif tersebut. Ia menilai dukungan dari pemerintah provinsi sangat membantu, terutama di tengah keterbatasan anggaran daerah.
“Kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan oleh pelaku usaha perikanan. Dengan adanya fasilitasi ini, mereka bisa mendapatkan pengetahuan sekaligus dukungan alat yang menunjang produksi,” ungkapnya.
Hery menjelaskan bahwa Blitar memiliki potensi besar di sektor budidaya ikan, seperti gurami, nila, dan lele. Selain itu, ikan hias seperti koi juga menjadi komoditas unggulan, meskipun pasar saat ini sedang fluktuatif.
Namun demikian, tantangan utama yang dihadapi pelaku usaha masih berkaitan dengan tingginya harga pakan. Kondisi tersebut berdampak langsung pada biaya produksi dan margin keuntungan.
“Ketika harga pakan naik, otomatis keuntungan tertekan. Ini yang perlu solusi bersama agar usaha tetap berjalan,” katanya.
Di sisi lain, potensi perikanan tangkap di wilayah pesisir selatan juga belum tergarap maksimal. Minimnya fasilitas penyimpanan seperti cold storage membuat hasil tangkapan nelayan sulit dipertahankan kualitasnya.
“Kalau musim ikan melimpah, sering kali hasil tangkapan dijual murah karena tidak bisa disimpan lama. Kami berharap ada dukungan pembangunan gudang beku,” pungkasnya.
