BLITAR – Aparat kepolisian berhasil mengamankan lebih dari seratus orang yang diduga terlibat dalam kericuhan besar di Kota Blitar dan Kediri pada Sabtu (30/8/2025) malam.
Insiden tersebut mencakup penyerangan Mapolres Blitar Kota serta pembakaran sebagian gedung DPRD, yang mengakibatkan situasi sempat mencekam.
Kapolres Blitar Kota, AKBP Titus Yudho Uly, menegaskan bahwa tindakan itu tidak bisa dianggap sebagai demonstrasi.
Menurutnya, peristiwa tersebut merupakan bentuk penyerangan terorganisir yang sudah melampaui batas kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum.
“Apa yang terjadi tadi malam sangat anarkis dan tidak bisa ditoleransi. Ini bukan aksi unjuk rasa, melainkan serangan yang sudah dipersiapkan. Kami mengimbau masyarakat agar tidak terpengaruh ajakan provokator, terutama yang melibatkan anak-anak dan remaja,” ujar Titus dalam keterangannya, Minggu (31/8/2025).
Polisi mencatat setidaknya 143 orang diamankan usai kerusuhan tersebut. Mayoritas pelaku adalah orang dewasa, namun di antara mereka terdapat pula remaja dan anak-anak yang diduga ikut dimobilisasi. Seluruhnya kini masih menjalani pemeriksaan intensif di Mapolres Blitar Kota.
Titus menekankan bahwa sesuai aturan, kegiatan penyampaian aspirasi masyarakat memiliki batasan waktu dan mekanisme yang jelas.
Massa yang datang pada malam hari dengan langsung melakukan penyerangan, menurutnya, sudah keluar dari koridor hukum.
Dalam peristiwa itu, sejumlah fasilitas rusak parah. Api sempat membakar ruangan di kompleks DPRD Blitar sebelum berhasil dipadamkan.
Aksi massa juga membuat warga sekitar resah karena sebagian pelaku diketahui berkendara dalam kondisi mabuk dan merusak properti umum.
“Kerusakan yang ditimbulkan bukan hanya pada bangunan pemerintahan, tapi juga menimbulkan rasa takut di masyarakat. Karena itu, kami tegaskan sekali lagi ini murni penyerangan, bukan demonstrasi,” tegas Kapolres.
Sebagai kota yang dikenal memiliki sejarah panjang dalam perjuangan kemerdekaan, Titus mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga Blitar tetap kondusif.
Ia berharap warga tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan situasi demi kepentingan tertentu.
“Kota Blitar adalah Kota Proklamator. Mari kita jaga marwahnya dengan menjauhkan tindakan anarkis,” pungkasnya.





