PatriaPos.com – Umat Islam di berbagai daerah memperingati malam kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada Kamis 4 September–Jumat malam 2025 bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1447 Hijriah.
Malam yang dikenal sebagai Maulid Nabi itu diyakini sebagai salah satu momen penuh keberkahan, doa, serta kesempatan untuk memperbanyak salawat kepada Rasulullah.
Bagi umat Islam, malam 12 Rabiul Awal memiliki makna mendalam. Banyak ulama menegaskan bahwa kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa agung yang membawa cahaya hidayah ke muka bumi. Tanpa kehadiran beliau, umat tidak akan mengenal Al-Qur’an, ibadah, maupun jalan menuju Allah SWT.
Dalam kitab Al-Mawahib Al-Laduniyyah karya Imam Al-Qastalani, disebutkan bahwa malam kelahiran Rasulullah memiliki keutamaan yang sangat tinggi, bahkan dibandingkan malam-malam penuh kemuliaan lainnya.
Beberapa ulama menyebut, malam ini lebih utama dari malam Nisfu Sya’ban, sepuluh hari pertama Muharram, hingga malam Arafah.
Bahkan ada pandangan yang menilai malam 12 Rabiul Awal lebih agung dibanding Lailatul Qadar. Alasannya, tanpa kelahiran Nabi Muhammad SAW, umat Islam tidak akan mengenal Ramadan dan malam Lailatul Qadar itu sendiri.
Peringatan Maulid Nabi diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan. Banyak umat menghidupkan malam tersebut dengan membaca Al-Qur’an, berzikir, beristighfar, serta memperbanyak salawat.
Setiap salawat yang diucapkan umat akan dibalas oleh Allah dengan sepuluh rahmat. Salawat yang paling sering dibaca antara lain Salawat Ibrahimiyyah, Salawat Munjiyat, dan Salawat Jibril.
Dengan menghidupkan malam kelahiran Nabi melalui memperbanyak salawat merupakan bentuk nyata cinta kepada Rasulullah SAW.
Selain doa dan salawat, malam Maulid juga dijadikan momentum untuk introspeksi. Umat diingatkan agar meneladani akhlak Rasulullah, memperkuat iman, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.
Banyak kalangan ulama menilai Maulid Nabi bukan hanya peringatan seremonial, melainkan sarana memperbaharui kecintaan kepada Rasulullah.
Nilai utama dari peringatan ini adalah bagaimana umat mampu menerapkan teladan Nabi dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam berbagai majelis, doa bersama dipanjatkan agar malam kelahiran Nabi Muhammad SAW membawa keberkahan bagi umat Islam. Doa yang dipanjatkan tidak hanya untuk ampunan dosa, tetapi juga kelapangan rezeki, kesehatan, serta keteguhan iman.
“Ya Allah, di malam kelahiran kekasih-Mu, ampunilah dosa kami dan kedua orang tua kami. Lapangkanlah rezeki, sehatkan tubuh kami, serta jauhkan kami dari kesempitan hidup dan kesedihan. Amin ya Rabbal ‘alamin,” demikian salah satu doa yang dilantunkan jamaah dalam peringatan malam Maulid.
Amalan dan Dzikir Malam Maulid Nabi
Selain doa bersama, para ulama juga menganjurkan sejumlah amalan yang bisa dilakukan pada malam 12 Rabiul Awal, di antaranya:
Membaca Al-Qur’an, terutama surah Yasin atau surah-surah pendek.
Memperbanyak istighfar, misalnya “Astaghfirullahal ‘azhim” dibaca 100 kali.
Mengucapkan salawat, seperti:
Salawat Ibrahimiyyah (yang dibaca dalam salat).
Salawat Jibril: “Shallallahu ‘ala Muhammad” dibaca berulang.
Salawat Munjiyat untuk memohon keselamatan dan keberkahan.
Berzikir dengan kalimat tahlil, tahmid, tasbih, dan takbir:
Laa ilaaha illallah
Alhamdulillah
Subhanallah
Allahu Akbar
Memanjatkan doa khusus untuk diri sendiri, orang tua, keluarga, dan seluruh umat Muslim.
Dengan menghidupkan malam Maulid Nabi melalui doa, zikir, dan salawat, umat Islam berharap mendapat keberkahan, ampunan, serta syafaat Rasulullah SAW di hari akhir.








