PatriaPos Indonesia | Portal Media Independen Terkini & Terpercaya

DBHCHT Dorong Penguatan Keterampilan Pelinting Rokok di Blitar, Industri Lokal Kian Terbantu

Kepala Disperindag Kabupaten Blitar, Darmadi, memberikan keterangan kepada media usai meninjau pelaksanaan program pembinaan industri tembakau, Rabu (19/11/2025).
Kepala Disperindag Kabupaten Blitar, Darmadi, memberikan keterangan kepada media usai meninjau pelaksanaan program pembinaan industri tembakau, Rabu (19/11/2025).

BLITAR – Upaya Pemerintah Kabupaten Blitar menjaga stabilitas industri hasil tembakau kembali mendapat sorotan setelah Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) menyelesaikan rangkaian Pelatihan Pelintingan Rokok Tahap III Tahun 2025. Program tersebut berlangsung selama lima hari pada akhir Oktober dan diikuti para pekerja dari sejumlah perusahaan rokok di wilayah setempat.

Pelatihan ini menjadi bagian dari penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang diarahkan untuk memperkuat kompetensi tenaga kerja lokal.

Sektor tembakau selama ini menjadi penopang ekonomi keluarga di banyak desa, sehingga peningkatan keterampilannya dinilai berdampak langsung pada produktivitas industri.

Kepala Disperindag Kabupaten Blitar, Darmadi, mengatakan bahwa pelatihan pelintingan tahun ini bukan sekadar kegiatan rutin. Pemerintah ingin memastikan bahwa pekerja pabrik rokok di Blitar benar-benar memiliki kecakapan yang sesuai tuntutan industri yang semakin kompetitif.

“Para peserta bukan hanya belajar teknik pelintingan, tetapi juga kecepatan dan konsistensi kerja. Hal-hal kecil seperti ketelitian sangat menentukan kualitas produk akhir,” ujarnya, Rabu (19/11/2025).

Dalam kegiatan tersebut, dua perusahaan ikut mengirimkan pekerjanya secara aktif, yakni PT Piramid Berkah Tobacco dan PR Cahaya Abadi Sejahtera. Darmadi menyampaikan apresiasi atas keterlibatan keduanya. Menurutnya, kolaborasi pemerintah dengan sektor industri adalah kunci agar pelatihan yang didanai DBHCHT tidak berhenti pada teori, tetapi benar-benar sesuai kebutuhan lapangan.

Instruktur pelatihan berasal dari praktisi industri rokok yang sehari-hari terlibat dalam proses produksi. Materi diberikan melalui praktik langsung, mulai dari pengenalan karakter bahan baku tembakau hingga teknik pelintingan yang baik. Pola pembelajaran seperti ini dipilih untuk memperkuat koordinasi tangan dan kecepatan motorik halus, dua aspek yang sangat menentukan hasil pelintingan.

Darmadi menegaskan bahwa pelatihan keterampilan berbasis DBHCHT diharapkan dapat memperkuat daya saing tenaga kerja lokal. Dengan keterampilan yang meningkat, pekerja tidak hanya mampu memenuhi standar produksi, tetapi juga berpeluang memperoleh peningkatan kesejahteraan.

“Kami ingin memastikan setiap peserta mendapatkan manfaat nyata. Semakin banyak pekerja terampil, semakin kuat pula industri tembakau kita,” pungkasnya.