BLITAR — Bukan lagi sekadar membangun infrastruktur, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Blitar tahun ini mulai melakukan lompatan besar dalam pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).
Lewat pembangunan gudang penyimpanan dan dome pengering modern di Kecamatan Selopuro, pemerintah daerah menargetkan lahirnya sentra produksi tembakau premium langsung dari desa.
Kepala DKPP Kabupaten Blitar, Ir. Setiyana, menegaskan bahwa DBHCHT 2025 diarahkan bukan hanya untuk membangun fasilitas fisik, tetapi juga untuk mengubah kualitas dan cara kerja petani.
“Selopuro dipilih karena merupakan daerah penghasil tembakau terbesar di Blitar. Tahun ini, DBHCHT kita fokuskan pada tiga kegiatan prioritas: irigasi tersier, gudang tembakau modern, dan dome pengering,” ujarnya, Rabu (12/11/2025).
Setiyana menjelaskan, pembangunan gudang tidak sekadar tempat penyimpanan, tetapi menjadi kunci utama peningkatan mutu tembakau.
“Jika penyimpanan dilakukan dengan benar, kualitas tembakau akan naik dan harganya ikut naik. Gudang ini kebutuhan mendesak petani,” jelasnya.
Gudang tersebut dirancang agar tembakau tetap pada kondisi terbaik, sehingga petani memiliki daya tawar lebih kuat ketika masuk ke pasar.
Inovasi terbesar hadir lewat pembangunan dome pengering tembakau, teknologi baru yang memungkinkan daun tembakau dikeringkan tanpa bergantung pada panas matahari sebuah terobosan penting saat musim penghujan.
“Sistem sirkulasi udara tertutup memungkinkan pengeringan tanpa dirajang. Bahkan setelah musim panen, area bawah dome bisa jadi tempat persemaian. Jadi bangunan ini multifungsi,” terang Setiyana.
Selain meningkatkan kualitas, dome juga membuat biaya produksi petani lebih efisien.
“Biasanya petani menutup persemaian dengan plastik. Dengan dome, itu tidak perlu lagi,” tambahnya.
Selopuro, yang selama ini dikenal sebagai rumah bagi tembakau Lulang, Kenongo, dan Kalituri, sempat terpukul akibat perubahan iklim dan minimnya fasilitas pascapanen. Namun pembangunan melalui DBHCHT 2025 diharapkan menjadi momentum kebangkitan.
“Fasilitas ini menjadi tonggak kebangkitan tembakau Selopuro. Petani bisa menjaga mutu dan meningkatkan posisi tawar,” kata Setiyana.
Setiyana menegaskan bahwa DBHCHT juga diarahkan untuk membangun ekosistem pertanian yang lebih kuat.
Selain infrastruktur, DKPP akan memperkuat pelatihan, pendampingan kelompok tani, dan manajemen pascapanen.
“Kita ingin DBHCHT benar-benar berdampak bagi petani. Tidak hanya membangun fisik, tapi juga membangun kapasitas dan kesejahteraan,” tegasnya.
DKPP turut menggandeng pemerintah provinsi, kelompok tani, hingga pelaku usaha agar rantai pasok tembakau lebih efisien dan bernilai tambah di daerah sendiri.
“Dengan fasilitas gudang dan dome ini, petani tidak hanya menjual daun basah. Mereka bisa menghasilkan tembakau berkualitas premium di desa sendiri,” pungkasnya.
Program DBHCHT 2025 menjadi bukti keseriusan DKPP Kabupaten Blitar dalam mendorong pertanian tembakau yang lebih maju, modern, dan menyejahterakan.(ADV)





