Kabar tentang keserakahannya pun menyebar hingga ke telinga Kesultanan Demak. Pihak kerajaan merasa perlu mengambil langkah untuk mengingatkan sang adipati agar kembali ke jalan yang benar.
Sunan Kalijaga Menyamar Sebagai Tukang Rumput
Dalam upaya menuntun sang adipati kembali ke jalan yang lurus, Sunan Kalijaga ulama besar Wali Songo yang terkenal bijaksana memutuskan turun tangan sendiri. Dengan menyamar sebagai seorang tukang rumput sederhana, ia bertemu Adipati Mangkubumi di suatu kesempatan.
Adipati, yang tengah memungut pajak, melihat rumput hijau yang dibawa sang tukang dan bermaksud membelinya. Namun, secara mengejutkan, tukang rumput itu menolak uang pemberian sang adipati dan diam-diam menyelipkannya kembali di antara tumpukan rumput. Merasa tersinggung, adipati memerintahkan agar tukang rumput tersebut dibawa ke hadapannya.
Di sinilah identitas asli Sunan Kalijaga terungkap. Ia menjelaskan bahwa kekayaan dunia bukanlah sesuatu yang patut diperjuangkan mati-matian. Untuk membuktikan ucapannya, ia mencangkul tanah dan seketika itu juga keluar bongkahan emas. Pesan yang ingin disampaikan jelas harta dunia bisa diperoleh dengan mudah, tetapi jiwa yang tamak akan selalu gelisah.
Pertobatan Sang Adipati
Adipati Mangkubumi tersentak oleh karomah itu. Ia menyadari kesalahannya dan segera memohon ampun. Dengan tulus, ia meminta kepada Sunan Kalijaga agar diterima menjadi muridnya. Ia bahkan bersedia melepaskan kedudukannya dan meninggalkan segala kekayaan untuk memperdalam ilmu agama.
Sunan Kalijaga, dengan kelembutan hatinya, menerima permintaan itu. Ia mengingatkan sang adipati agar meninggalkan kecintaan terhadap dunia dan fokus pada kehidupan spiritual yang lebih bermakna.
Pengkhianatan Tersembunyi Sang Istri
Kabar pertobatan adipati disambut dengan haru oleh istrinya, Nyai Pandan Arang. Ia pun setuju untuk mendampingi suaminya menjalani kehidupan baru.
Namun, jauh di lubuk hatinya, Nyai Pandan Arang belum sepenuhnya ikhlas meninggalkan kemewahan. Diam-diam, ia memasukkan emas ke dalam tongkat bambu dan membawanya saat mereka berangkat meninggalkan kadipaten.
Perjalanan itu menjadi titik balik yang penuh cobaan. Dalam benak sang istri, kekayaan tetap menjadi pegangan yang sulit dilepaskan, meskipun sang suami telah bertekad menjauh darinya.








