PatriaPos.com, BLITAR – Dunia pendidikan di Blitar sedang menghadapi krisis serius akibat tingginya angka anak putus sekolah dan meningkatnya keterlibatan pelajar serta anak putus sekolah dalam aksi kerusuhan dan tindakan anarkis.
Joko Pramono, Kepala Sekolah Kelas Bung Karno, menyebut kondisi ini sebagai darurat pendidikan kebangsaan yang membutuhkan perhatian mendesak dari pemerintah, pelaku pendidikan, dan seluruh elemen masyarakat.
Menurut Joko, tingginya angka anak putus sekolah tidak hanya mencerminkan masalah akses pendidikan, tetapi juga kegagalan dalam membangun karakter kebangsaan yang kokoh di kalangan generasi muda.
“Anak-anak yang putus sekolah rentan terjerumus ke dalam perilaku negatif, seperti kerusuhan dan tindakan anarkis, karena kurangnya pendidikan karakter dan kesadaran kebangsaan,” ujarnya dalam wawancara di Blitar, Selasa (2/9/2025).
Ia menambahkan bahwa fenomena ini diperparah oleh maraknya aksi anarkis dan vandalisme yang melibatkan pelajar, yang sering diprovokasi oleh anak putus sekolah, menunjukkan minimnya pembinaan karakter dan arah pendidikan yang jelas.
Untuk mengatasi krisis ini, Joko mengusulkan penguatan pendidikan karakter melalui program Nation and Character Building yang digagas melalui Kelas Bung Karno, sebuah forum diskusi kebangsaan yang diadakan rutin setiap dua minggu di Istana Gebang.
Program ini bertujuan menanamkan nilai-nilai nasionalisme, seperti cinta tanah air, disiplin, keberanian, dan tanggung jawab sosial, melalui kegiatan edukatif dan interaktif. “Kami ingin anak-anak, baik yang masih bersekolah maupun yang putus sekolah, memahami identitas dan tanggung jawab mereka sebagai warga negara,” jelas Joko.
Selain itu, Joko menekankan pentingnya peran Satuan Pendidikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebagai solusi bagi anak-anak yang tidak dapat melanjutkan pendidikan formal.
“PKBM adalah jembatan untuk mengembalikan anak-anak putus sekolah ke jalur pendidikan yang produktif. Kami menawarkan pendidikan alternatif yang fleksibel, sehingga mereka tetap bisa belajar meski terhambat kondisi ekonomi atau sosial,” ungkapnya. Ia mengajak pemerintah daerah untuk memperkuat PKBM dengan kurikulum kebangsaan yang relevan dan akses yang mudah bagi masyarakat.
Joko juga menyoroti nilai-nilai nasionalisme yang diajarkan Proklamator Republik Indonesia, Bung Karno, sebagai fondasi untuk membentuk generasi emas yang berintegritas.
“Pendidikan karakter ala Bung Karno menanamkan semangat cinta tanah air dan anti-kekerasan. Ini penting untuk mencegah pelajar terlibat dalam tindakan anarkis dan vandalis,” tambahnya. Ia meminta pemerintah daerah untuk serius menangani fenomena Anak Tidak Sekolah (ATS) dengan pendekatan komprehensif, termasuk memperluas akses pendidikan kebangsaan melalui Kelas Bung Karno dan meningkatkan kualitas pendidikan karakter di sekolah.
Kelas Bung Karno, yang dipimpin Joko, telah aktif memberikan edukasi tentang nasionalisme dan karakter kepada masyarakat Blitar. Melalui forum ini, ia berupaya membangun kesadaran akan identitas bangsa dan tanggung jawab sosial di kalangan anak-anak dan remaja.
“Kami ingin generasi muda tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga memiliki jiwa nasionalis dan moral yang kuat,” tuturnya.
Joko menegaskan bahwa situasi darurat pendidikan ini memerlukan kerja sama lintas sektor. Ia mengajak pemerintah Kota dan Kabupaten Blitar, sekolah, serta masyarakat untuk bersama-sama membangun sistem pendidikan yang inklusif dan berorientasi pada pembangunan karakter.
“Jika kita tidak bertindak sekarang, masa depan generasi muda Blitar dan bangsa ini akan semakin terancam. Dengan semangat gotong royong, kita harus bangkit dari darurat pendidikan kebangsaan ini,” pungkasnya.
Joko Pramono : 085746582789





