PatriaPos Indonesia | Portal Media Independen Terkini & Terpercaya

Perubahan Gaya bahasa di media sosial Tiktok dan instagram

Ilustrasi Platform Media Sosial
Ilustrasi Platform Media Sosial

PatriaPos.Com – Perkembangan teknologi dan media sosial telah membawa perubahan besar dalam cara manusia berkomunikasi. Dua platform yang paling berpengaruh saat ini, yaitu TikTok dan Instagram, bukan hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang ekspresi bahasa yang dinamis. Gaya bahasa di kedua media ini terus berkembang, mencerminkan kreativitas, tren, dan identitas penggunanya—terutama kalangan remaja.

Perubahan Gaya Bahasa di Era Digital

Bahasa selalu berkembang mengikuti zaman. Namun, di era digital, perubahan itu terjadi jauh lebih cepat. Di TikTok dan Instagram, muncul banyak kata baru, singkatan, dan istilah khas yang lahir dari tren internet. Misalnya, kata-kata seperti vibe, cringe, flexing, FYP, dan OOTD kini menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari pengguna media sosial.

Selain itu, pengguna juga sering mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris (code-mixing) untuk terlihat lebih modern atau lucu. Contohnya seperti, “Mood banget sih hari ini,” atau “OOTD aku simple tapi aesthetic.” Fenomena ini memperlihatkan bagaimana bahasa beradaptasi dengan gaya hidup digital yang serba cepat dan visual.

Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Gaya Bahasa

Ada beberapa faktor yang mendorong perubahan gaya bahasa di TikTok dan Instagram:

1. Tren dan viralitas – Pengguna sering meniru gaya bahasa yang sedang viral untuk mendapatkan perhatian dan interaksi.

2. Influencer dan content creator – Mereka memiliki pengaruh besar dalam menciptakan istilah baru yang kemudian diikuti banyak orang.

3. Interaksi global – Media sosial menghubungkan pengguna dari berbagai negara, sehingga terjadi percampuran budaya dan bahasa.

4. Kebutuhan ekspresi diri – Bahasa di media sosial sering kali dipakai untuk menampilkan kepribadian, gaya hidup, atau emosi secara unik.

 

Dampak Perubahan Gaya Bahasa

Perubahan gaya bahasa di media sosial memiliki dua sisi. Di satu sisi, hal ini menunjukkan kreativitas dan kebebasan berekspresi pengguna muda. Namun, di sisi lain, bisa muncul penyimpangan dari kaidah bahasa baku dan menurunnya kemampuan menulis formal. Meski begitu, perubahan ini tetap menjadi bagian dari dinamika bahasa yang wajar.

Kesimpulan

TikTok dan Instagram telah menjadi ruang di mana bahasa berkembang secara cepat dan kreatif. Gaya bahasa di media sosial mencerminkan karakter generasi muda yang terbuka, inovatif, dan mengikuti tren global. Perubahan ini tidak perlu dianggap sebagai ancaman, melainkan sebagai bukti bahwa bahasa adalah makhluk hidup yang terus beradaptasi dengan zaman.