PatriaPos Indonesia | Portal Media Independen Terkini & Terpercaya

Kaisar Qianlong Tiongkok dengan 3 Permaisuri dan 40 Selir: Dari Puncak Kejayaan Hingga Tragedi Makam Yuling

Potret Kaisar Qianlong dengan jubah kekaisaran kuning berhias naga, melambangkan kemegahan dan kekuasaan Dinasti Qing. Sumber: Palace Museum, Beijing (Public Domain, Wikimedia Commons)
Potret Kaisar Qianlong dengan jubah kekaisaran kuning berhias naga, melambangkan kemegahan dan kekuasaan Dinasti Qing. Sumber: Palace Museum, Beijing (Public Domain, Wikimedia Commons)

PatriaPos.comTiongkok, negeri yang dikenal sebagai Negara Tirai Bambu, bukan hanya masyhur dengan filosofi yang mendalam, tetapi juga memiliki peradaban yang sarat dengan sejarah panjang.

Di balik deretan legenda yang menyelimutinya, tersimpan kisah kelam tentang seorang kaisar besar dari Dinasti Qing bernama Qianlong.

Meski Qianlong hidup dalam kemegahan semasa berkuasa, peristirahatan terakhirnya justru ternoda oleh penistaan dan penjarahan.

Makamnya, yang dikenal sebagai Yuling, bukan sekadar simbol saksi bisu masa lalu, melainkan juga menyimpan misteri yang hingga kini belum sepenuhnya terungkap.

Kaisar dengan Kekuasaan Terpanjang

Lukisan Kaisar Qianlong saat muda dengan pakaian kebesaran kerajaan, menggambarkan awal masa pemerintahannya yang penuh kejayaan
Lukisan Kaisar Qianlong saat muda dengan pakaian kebesaran kerajaan, menggambarkan awal masa pemerintahannya yang penuh kejayaan. Sumber: Palace Museum, Beijing (Public Domain, Wikimedia Commons)

Qianlong, yang lahir dengan nama Hong Li pada tahun 1711, naik takhta pada usia 24 tahun.

Ia memerintah selama 63 tahun, menjadikannya kaisar dengan masa kekuasaan terpanjang dalam sejarah Dinasti Qing.

Masa pemerintahannya kerap dianggap sebagai puncak kejayaan kekaisaran, ketika populasi Tiongkok melonjak dari sekitar 140 juta jiwa menjadi lebih dari 300 juta jiwa pada akhir abad ke-18.

Kejayaan itu ditopang oleh ekspansi militer, stabilitas sosial, serta kemakmuran ekonomi. Seni, budaya, dan literatur pun berkembang pesat pada zamannya.

Namun, di balik gemerlapnya kejayaan tersebut, tersimpan kisah muram yang baru terkuak setelah Qianlong wafat pada 1799. Alih-alih beristirahat dengan tenang, makam sang kaisar justru menjadi panggung tragedi.

Yuling: Kompleks Makam yang Megah

Ruang pemakaman Kaisar Qianlong di Yuling Mausoleum, Hebei, Tiongkok. Kompleks makam ini menjadi bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO
Ruang pemakaman Kaisar Qianlong di Yuling Mausoleum, Hebei, Tiongkok. Kompleks makam ini menjadi bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO. Sumber: Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

 

Makam Qianlong berada di dalam kompleks Qing Dongling atau Makam Kekaisaran Qing Timur, di Provinsi Hebei.

Kompleks seluas 80 kilometer persegi itu menampung lima kaisar, 15 permaisuri, 136 selir, tiga pangeran, dan dua putri kekaisaran.

Dari semua kompleks pemakaman tersebut, Yuling, mausoleum Qianlong, adalah yang paling besar dan megah.

Dibangun dengan detail arsitektur yang mengagumkan, Yuling dihiasi ukiran-ukiran Buddha, mantra Tibet, serta desain ruang bawah tanah yang misterius.

Konon, dinding istana bawah tanah dipenuhi dengan pahatan mantra Buddha dalam aksara Tibet dan Sanskerta, yang jumlahnya mencapai 30.000 huruf. Hingga kini, para ahli belum mampu menyingkap seluruh makna teks tersebut.

Namun, kebesaran makam ini tidak luput dari tangan-tangan serakah. Pada tahun 1928, ketika Tiongkok tengah dilanda kekacauan akibat perang saudara, seorang panglima perang bernama Sun Dianying memimpin pasukan untuk menjarah makam kekaisaran.

Dengan aksi brutal, ia memporak-porandakan akses pintu gerbang Yuling menggunakan dinamit dan kapak.

Selama tujuh hari tujuh malam, pasukannya mengobrak-abrik area ruang bawah tanah, merampas harta karun bersejarah hingga merusak peti mati.

Jenazah Kaisar Qianlong dan permaisurinya tidak luput dari incaran utamanya, yang dibuang ke lantai, tulang-belulang mereka tersebar berserakan. Peti mati lain milik para selir hancur total, sebagian tidak pernah ditemukan lagi.

Artefak emas, perhiasan, giok, hingga manuskrip langka raib diangkut keluar menggunakan puluhan kereta kuda.

Di antara insiden nahas itu, salinan naskah legendaris “Preface to the Orchid Pavilion Collection” karya Wang Xizhi, yang dianggap sebagai mahakarya kaligrafi Tiongkok, juga hilang. Kehilangannya menjadi luka budaya terbesar dalam sejarah Tiongkok modern.

Sun Dianying sendiri berhasil lolos dari hukuman dengan menyuap pejabat tinggi. Namun, nasibnya berakhir tragis.

Pada 1946, ia ditangkap oleh Partai Komunis Tiongkok dan meninggal di penjara hanya setengah tahun kemudian.