BLITAR — Embung Gogoniti di Desa Kemirigede, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, kembali mendapat perhatian masyarakat melalui gelaran Merdeka Coffee Trail Run, Minggu (23/8/2026).
Bukan sekadar perlombaan lari, kegiatan yang diikuti sekitar 700 peserta tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan potensi wisata sekaligus komoditas kopi yang berkembang di wilayah Blitar Timur.
Merdeka Coffee Trail Run digelar melalui kolaborasi Anggota DPRD Jawa Timur Erma Susanti, Dinas Pariwisata Jatim, Pemkab Blitar, Pemerintah Desa Kemirigede, serta komunitas Run Blitar.
Para peserta mengikuti dua kategori perlombaan. Kategori umum menempuh lintasan sepanjang 15 kilometer, sementara pelajar mengikuti rute 7 kilometer.
Antusiasme peserta datang dari berbagai daerah. Mereka tidak hanya berasal dari Blitar, tetapi juga Solo, Surabaya, Malang, Bojonegoro hingga Batu. Peserta dengan usia tertua bahkan tercatat berumur 76 tahun.
Bagi Erma Susanti, konsep tersebut sengaja dibuat untuk mempertemukan olahraga dengan potensi ekonomi daerah.
Anggota Komisi B DPRD Jatim itu mengatakan, tren trail run yang semakin diminati masyarakat, khususnya anak muda, dapat dimanfaatkan sebagai sarana memperkenalkan desa wisata sekaligus produk lokal.
“Trail run sekarang banyak diminati, terutama anak muda. Kami padukan dengan desa wisata dan kopi karena tiga potensi ini bisa saling menguatkan,” kata Erma.
Menurutnya, Embung Gogoniti mempunyai daya tarik alam yang cukup besar. Namun, potensi tersebut perlu kembali dikenalkan karena aktivitas wisata di kawasan itu sebelumnya sempat mengalami penurunan.

Kehadiran ratusan pelari diharapkan menjadi awal untuk menghidupkan kembali perhatian terhadap Gogoniti.
Tidak hanya melalui kedatangan wisatawan, promosi juga diharapkan berkembang lewat media sosial. Peserta yang datang dapat membagikan pengalaman mereka selama mengikuti perlombaan maupun menikmati suasana kawasan Gogoniti.
“Harapannya kegiatan ini dikenal luas. Peserta datang, melihat tempatnya, kemudian membagikan pengalaman melalui media sosial. Dari situ orang lain akan tahu bahwa Kemirigede memiliki destinasi wisata seperti Gogoniti,” ujarnya.
Erma menilai pengembangan desa wisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam.
Menurutnya, sebuah destinasi membutuhkan kegiatan pendukung, kuliner, serta produk lokal yang dapat memberikan pengalaman berbeda kepada wisatawan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Kopi menjadi salah satu produk yang dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan di Blitar Timur.
Sejumlah wilayah seperti Doko, Selorejo, Kesamben, Wlingi dan Gandusari dikenal sebagai kawasan produksi kopi.
“Kalau bicara Blitar Timur, kopinya salah satu potensi yang kuat. Jadi orang datang bukan hanya untuk menikmati pemandangan atau berlari, tetapi juga bisa menikmati kopi,” jelas Erma.
Pengembangan komoditas tersebut juga diarahkan tidak berhenti pada hasil panen. Petani didorong meningkatkan kualitas green bean, mendapatkan pendampingan pengolahan, hingga memahami proses penyajian kopi.
Pelatihan barista juga menjadi bagian dari upaya memperkuat sektor hilir agar kopi lokal memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Erma menyebut, kawasan Doko bahkan memiliki kopi arabika yang ditanam pada ketinggian sekitar 1.000 meter. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu modal untuk memperluas pasar kopi Blitar.

Pengembangan sektor kopi juga diarahkan kepada generasi muda.
Pelatihan barista dan pendidikan keterampilan melalui SMK diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang bagi anak muda untuk terlibat dalam industri kopi.
“Kalau petani bisa mengolah sampai menyajikan, nilai tambahnya lebih besar. Mereka tidak hanya menjual biji kopi, tetapi bisa mengembangkan usaha sendiri,” katanya.
Konsep penggabungan olahraga, wisata dan produk lokal tersebut diharapkan tidak berhenti di Gogoniti.
Erma mendorong desa wisata lain di Kabupaten Blitar turut membuat kegiatan kreatif sesuai dengan karakter dan potensi masing-masing.
Saat ini, terdapat 26 desa wisata yang telah mendapatkan penetapan dari Pemkab Blitar. Sebagian di antaranya dinilai masih membutuhkan inovasi dan kegiatan yang mampu kembali mendatangkan wisatawan.
“Jangan hanya Gogoniti. Desa wisata lain juga harus kita gerakkan. Bisa melalui event olahraga, budaya atau konsep lain yang sesuai dengan potensi masing-masing desa,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Blitar Khusna Lindarti mengapresiasi pelaksanaan Merdeka Coffee Trail Run.
Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan manfaat lebih luas karena tidak hanya mendorong masyarakat berolahraga, tetapi juga menjadi sarana promosi destinasi dan membuka peluang perputaran ekonomi bagi warga sekitar.
“Peserta tidak hanya dari Blitar. Ada yang datang dari luar daerah. Ini menjadi promosi langsung bagi wisata Gogoniti,” katanya.
Pemkab Blitar juga terus memberikan dukungan terhadap pengembangan kopi. Mulai bantuan bibit, pupuk, pembinaan, pelatihan hingga pemasaran dilakukan untuk memperkuat komoditas tersebut dari sektor hulu hingga hilir.
Produk kopi Blitar pun terus diperkenalkan melalui berbagai pameran agar semakin dikenal pelaku usaha kopi dari luar daerah maupun pasar mancanegara.
Dampak kegiatan tersebut juga dirasakan dari sisi peserta.
Avinda Wahyuningtias, pelajar asal Blitar, berhasil meraih juara pertama kategori pelajar putri 7 kilometer.

Bagi Avinda, keikutsertaan dalam trail run tersebut merupakan pengalaman pertamanya. Ia melakukan persiapan sekitar satu bulan dengan latihan lari, tempo dan interval.
“Awalnya target saya hanya bisa menyelesaikan sampai finis. Alhamdulillah malah dapat bonus juara,” ungkapnya.
Ia menilai lintasan cukup bersahabat bagi peserta pemula, meskipun terdapat sejumlah tantangan. Salah satunya adalah tanjakan kedua yang cukup curam.
Setelah sempat mengalami kelelahan, Avinda akhirnya mampu menuntaskan seluruh lintasan hingga mencapai garis finis.
