PatriaPos Indonesia | Portal Media Independen Terkini & Terpercaya

Urgensi Literasi Digital dalam Membentuk Generasi Muda yang Kritis dan Berdaya Saing: Perspektif Teoritis dan Sosial

Generasi muda belajar memanfaatkan teknologi secara cerdas di era digital.
Generasi muda belajar memanfaatkan teknologi secara cerdas di era digital.

PatriaPos.Com – Perkembangan teknologi informasi membawa dampak signifikan pada perubahan pola interaksi sosial, pendidikan, hingga pembentukan opini publik. Literasi digital menjadi kompetensi kunci bagi generasi muda dalam konteks ini. Gilster (1997) mendefinisikan literasi digital sebagai “the ability to understand and use information from a variety of digital sources”.

Definisi ini menekankan bahwa literasi digital bukan hanya mengoperasikan perangkat, tetapi memahami, menganalisis, dan menilai informasi secara kritis. Oleh karena itu, literasi digital harus ditempatkan sebagai fondasi pembentukan karakter generasi muda dalam menghadapi kompleksitas era modern.
Maraknya misinformasi dan disinformasi menjadi tantangan utama dalam ekosistem digital saat ini.

Potter (2013) menjelaskan dalam teorinya mengenai Media Literacy bahwa masyarakat perlu memiliki kemampuan cognitive filtering skills untuk memilah fakta dan opini dan membedakan kredibilitas sumber.

Ketiadaan kemampuan ini membuat generasi muda rentan terjebak dalam arus informasi yang bias, manipulatif, atau berorientasi provokasi. Dalam konteks inilah literasi digital memainkan peran penting dalam membangun generasi yang mampu menilai isi media dengan perspektif kritis dan analitis.

Dari perspektif perkembangan sosial, penggunaan media digital yang tidak diatur dapat berdampak sangat buruk pada perilaku dan interaksi remaja. Menurut Livingstone (2004), dunia digital menghadirkan peluang dan risiko secara bersamaan, terutama terkait privasi, keamanan data, dan dinamika emosional pengguna muda.

Tanpa pemahaman etika digital, remaja mudah terlibat dalam perundungan siber, berbagi informasi secara berlebihan, atau penggunaan situs jejaring sosial yang tidak sehat. Dengan demikian, literasi digital berkaitan erat dengan pembentukan kewarganegaraan digital yang bertanggung jawab, sejalan dengan apa yang dikatakan Ribble (2015) tentang pentingnya perilaku etis di ruang digital.

Di sisi lain, literasi digital juga menawarkan peluang besar bagi perkembangan akademik dan ekonomi generasi muda. Teori Constructivism dari Vygotsky (1978) menekankan bahwa pembelajaran terjadi melalui interaksi aktif antara individu dan lingkungannya.

Internet, sebagai ruang belajar tanpa batas, memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk mengakses pengetahuan global, mengikuti kursus daring, serta mengembangkan kreativitas melalui media digital. Hal ini sejalan dengan kompetensi abad ke-21, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan berpikir kritis yang menurut Kemitraan untuk Pembelajaran Abad ke-21 (P21), tidak dapat dipisahkan dari konteks literasi teknologi.

Pendidikan formal mempunyai peranan strategis dalam memperkuat literasi digital. Kurikulum berbasis Digital Literacy Framework sebagaimana diusulkan oleh Hobbs tahun 2010 mengedepankan integrasi kompetensi analisis, evaluasi informasi, dan produksi konten digital secara bertanggungjawab.

Guru tidak hanya berperan menjadi penyampai materi, melainkan juga fasilitator yang membimbing siswa untuk memanfaatkan teknologi pada aktivitas kolaboratif, penelitian, dan refleksi kritis. Sementara itu, keluarga sebagai lingkungan pembentuk karakter pertama harus menciptakan pola interaksi digital yang sehat melalui pendampingan, diskusi, serta kebiasaan membaca dan memverifikasi informasi.

Literasi digital bukan sekedar keterampilan tambahan tetapi kompetensi fundamental untuk menghadapi masyarakat informasi. Literasi digital yang kuat akan memberikan kemampuan kepada generasi muda untuk memikirkan secara kritis, berpartisipasi secara etis, dan menggunakan teknologi untuk pengembangan diri dan kontribusi sosial.

Dengan demikian, investasi terhadap literasi digital merupakan investasi terhadap masa depan bangsa: menciptakan masyarakat yang cerdas, kreatif, dan daya saing global.

Urgensi Literasi Digital dalam Membentuk Generasi Muda yang Kritis dan Berdaya Saing: Perspektif Teoritis dan Sosial - Patriapos

 

Nama : Refita Andini

Universitas Bangka Belitung

Prodi : Sastra Inggris