PatriaPos Indonesia | Portal Media Independen Terkini & Terpercaya

Tatap Muka Memanas! Sabtu Ini Chimaev vs Du Plessis Tentukan Juara UFC 319

Chimaev dan Du Plessis saling menatap tajam dalam konferensi pers UFC 319 menjelang perebutan sabuk. Sumber: Bloody Elbow
Chimaev dan Du Plessis saling menatap tajam dalam konferensi pers UFC 319 menjelang perebutan sabuk. Sumber: Bloody Elbow

PatriaPos.com – Chicago bersiap menjadi saksi salah satu laga UFC paling ditunggu tahun ini.

Jauh sebelum bel pembuka berbunyi di United Center, Amerika Serikat pada Sabtu (16/8) waktu setempat, duel perebutan sabuk kelas menengah UFC 319 antara Khamzat Chimaev dan Dricus du Plessis sudah memanas bak bara yang siap menyala.

Mengutip dari MMA Fighting, terlihat ketegangan antara dari kedua petarung kian memuncak saat konferensi pers pra-pertarungan, Kamis (14/8).

Di hadapan ratusan kamera dan sorakan penonton, kedua petarung saling mengunci pandangan tajam.

Dalam hitungan detik, suasana semakin meningkat hingga nyaris berujung baku hantam, memaksa CEO UFC Dana White langsung turun untuk melerai.

“Afrika tidak akan pernah melihat sabuk itu lagi,” tegas Chimaev, “predator cepat” kelahiran Chechnya yang terkenal dengan gaya menyerang ultra-agresif memadukan striking, grappling, dan kuncian khas petarung Kaukasus. Ia berulang kali menegaskan tekad untuk mengakhiri dominasi sang juara bertahan.

Du Plessis, petarung asal Afrika Selatan yang terkenal kalem namun mematikan, tak sedikit pun menunjukkan kegoyahan.

Dengan nada rendah tetapi penuh keyakinan, ia membalas, “Lihat saja, aku akan tetap keluar sebagai juara

Pertemuan ini sebenarnya sudah lama dinantikan fans UFC. Chimaev pindah ke kelas menengah setelah menguasai lawan-lawannya di divisi welter, sementara Du Plessis bertahan sebagai juara dan sedang dalam performa terbaiknya.

Keduanya belum pernah bertarung sebelumnya, namun saling melontarkan komentar panas di media sejak 2024. Isu soal siapa yang “berhak” menyandang gelar petarung terbaik dari benua Afrika turut memanaskan suasana.

Pertarungan ini lebih dari perebutan gelar. Chimaev, dengan rekor impresif, sejauh ini belum pernah menghadapi pertarungan yang sampai lima ronde penuh, menunjukkan bahwa ia mampu menjaga performa dan intensitasnya jika laga berlangsung lama di dalam oktagon.

Di sisi lain, Du Plessis mengandalkan stamina baja dan kemampuan membalik keadaan di detik-detik krusial.

“Kalau dia mau lari cepat, ayo kita lihat siapa yang menyerah lebih dulu,” tantangnya.

Sementara, para analisis dari mantan juara kelas menengah Chris Weidman menambah bumbu drama.

Menurutnya, Du Plessis akan diuntungkan jika laga memasuki ronde keempat atau kelima karena Chimaev belum benar-benar teruji dalam durasi lama.

Sementara itu, Israel Adesanya mantan raja divisi yang juga pernah berseteru dengan Du Plessis menilai sang juara memiliki “kemampuan unik untuk menemukan cara menang bahkan di situasi tersulit.”

Semua mata kini tertuju pada Chicago. UFC 319 tidak hanya menentukan siapa yang akan memegang sabuk, tetapi juga merupakan momen krusial yang dapat mengubah persepsi divisi kelas menengah UFC dalam beberapa tahun ke depan.