PatriaPos Indonesia | Portal Media Independen Terkini & Terpercaya

Sejarah Panjang Maulid Nabi Muhammad SAW, Dari Tradisi Istana hingga Menjadi Perayaan Umat

Ribuan umat Islam berkumpul di masjid untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Ribuan umat Islam berkumpul di masjid untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

PatriaPos.com – Setiap tahun, umat Islam di berbagai penjuru dunia memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, sebuah momen yang tidak hanya sarat dengan nilai religius, tetapi juga kaya akan tradisi sosial dan budaya.

Perayaan ini selalu berhasil menarik perhatian, baik karena semangat kebersamaan yang ditumbuhkan maupun karena sejarah panjang yang mengiringinya.

Bagi sebagian orang, Maulid Nabi dipandang sebagai wujud rasa cinta kepada Rasulullah. Namun, di sisi lain, perayaan ini juga kerap menjadi bahan perdebatan di kalangan para ulama.

Namun, secara historis ataupun pendapat dari sejarawan besar Islam seperti Ibn Katsir dalam Al-Bidāyah wa al-Nihāyah peringatan yang kini begitu lekat dengan masyarakat Muslim ternyata tidak dikenal di masa Nabi hidup, bahkan juga tidak pada masa sahabat.

Baru ratusan tahun kemudian, Maulid lahir sebagai sebuah tradisi resmi yang terus berkembang hingga menjadi bagian dari identitas umat Islam di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.

Peringatan yang Tidak Dikenal di Zaman Nabi

Nabi Muhammad SAW lahir pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah, sekitar 571 Masehi. Peristiwa itu tercatat dalam sejarah Islam sebagai momen istimewa, namun pada masa kehidupan beliau, tidak ada tradisi memperingati hari kelahiran.

Para sahabat yang menjadi generasi pertama umat Islam juga tidak mengenal acara Maulid. Mereka lebih memusatkan perhatian pada dakwah, penegakan syariat, serta pengembangan peradaban Islam yang baru tumbuh.

Fakta ini menjadi dasar bagi sebagian ulama yang menilai bahwa peringatan Maulid tidak memiliki rujukan langsung dari sunnah Nabi.

Jejak Pertama di Dinasti Fatimiyah

Tradisi memperingati Maulid baru muncul pada abad ke-10 Masehi, ketika Dinasti Fatimiyah berkuasa di Mesir.

Penguasa saat itu menggunakan perayaan hari kelahiran Nabi sebagai sarana politik untuk memperkuat legitimasi mereka.

Perayaan diselenggarakan dengan meriah di istana, melibatkan jamuan makan, bacaan doa, serta acara budaya.

Meski awalnya bernuansa politis, Maulid kemudian berkembang menjadi praktik sosial dan religius yang mendapat tempat di hati sebagian besar umat Islam.

Perkembangan di Irbil, Irak

Seiring waktu, tradisi ini meluas ke wilayah lain. Pada abad ke-12 M, Sultan Muzhaffar al-Din dari Irbil, Irak, menjadi salah satu tokoh penting yang mempopulerkan Maulid.

Ia menggelar acara besar-besaran yang melibatkan ulama, qari, serta masyarakat umum. Sejarawan Ibnu Katsir bahkan mencatat bahwa perayaan tersebut berlangsung dengan penuh kemeriahan dan pengorganisasian yang rapi.

Dari titik inilah, Maulid semakin dikenal luas dan dipandang sebagai sarana menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah.

Perdebatan Pandangan Ulama

Sejak awal kemunculannya, Maulid selalu menimbulkan pro dan kontra. Sebagian ulama menganggap peringatan ini sebagai bid’ah hasanah, yakni inovasi baik yang dapat mendorong umat untuk semakin dekat dengan Nabi dan agama.

Tokoh-tokoh seperti Imam Jalaluddin as-Suyuthi dan Ibnu Hajar al-Asqalani termasuk yang mendukung tradisi ini. Namun, ada pula yang menolak keras dengan alasan tidak memiliki landasan pada masa Nabi dan sahabat.

Kelompok yang menolak berpendapat bahwa segala bentuk ibadah baru yang tidak dicontohkan sebaiknya dihindari agar tidak melenceng dari ajaran asli Islam.

Maulid di Dunia Islam

Dalam praktiknya, perayaan Maulid berbeda-beda di setiap wilayah. Di Mesir, umat Islam biasa merayakan dengan bacaan syair dan zikir di masjid.

Di Turki Utsmani, tradisi ini dikenal dengan nama Mevlid Kandili, ditandai dengan pembacaan puisi pujian kepada Nabi. Di kawasan Maghrib, Maulid menjadi momentum berkumpulnya masyarakat untuk berzikir dan berbagi makanan.

Di Indonesia, tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW berkembang menjadi beragam kegiatan khas seperti pembacaan Barzanji, Simthud Durar, atau Diba’, serta disertai dengan acara budaya seperti Grebeg Maulud di Yogyakarta dan Sekaten di Solo.

Maulid di Indonesia

Masuknya Islam ke Nusantara membawa pula tradisi Maulid.

Ketika berada di masa Kesultanan Demak dan Cirebon, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW mendapatkan dukungan dari kerajaan dan tumbuh sebagai upaya dakwah Islam.

Hingga kini, Maulid di Indonesia kerap menjadi momentum yang dinanti. Di berbagai daerah, masyarakat menggelar acara doa bersama, pengajian, hingga karnaval budaya.

Tradisi ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga menjadi media perekat sosial yang memperkuat rasa persaudaraan.

Antara Tradisi dan Spiritualitas

Meskipun terjadi perdebatan yang berkepanjangan, tidak dapat disangkal bahwa Maulid Nabi Muhammad SAW telah menjadi bagian dari kehidupan umat Islam.

Bagi sebagian besar masyarakat, perayaan ini menjadi cara untuk menguatkan kasih sayang dan penghormatan terhadap Nabi. Selain itu, Maulid sering dijadikan kesempatan untuk memperbanyak shalawat, memperdalam pengetahuan agama, dan memperkuat nilai kebersamaan.

Sejarah panjang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW menunjukkan bahwa peringatan ini bukan hanya sebagai ritual tahunan, tetapi juga sebagai tradisi yang terus berubah sesuai dengan budaya lokal.

Meski tidak dikenal di masa Nabi maupun sahabat, Maulid telah tumbuh menjadi warisan sosial-religius yang hidup di tengah umat Islam.

Perbedaan pandangan mengenai hukumnya adalah hal yang wajar dalam tradisi keilmuan Islam. Namun, satu hal yang pasti, perayaan Maulid selalu menjadi momen untuk mengingat kembali sosok Nabi Muhammad SAW sebagai teladan utama bagi umat manusia.