Namun, peraturan telah diumumkan. Tidak ada pilihan selain memberi kesempatan. Dengan berat hati, Raja Jenggala menyetujui dan memerintahkan sayembara dimulai ketika senja tiba.
Begitu matahari tenggelam di balik cakrawala, Lembu Suro langsung bergegas ke puncak Gunung Kelud.
Hentakan kakinya membuat tanah berguncang, seolah alam pun tunduk pada kekuatannya. Ia mencurahkan seluruh kesaktiannya tanduk runcingnya menembus batuan keras, menggali dengan kecepatan luar biasa.
Demi memenangkan hati sang putri, ia bekerja tanpa jeda, dikuasai ambisi membara.
Saat fajar mulai menyingsing dan sinar merah pertama mengintip dari timur, dua sumur dalam terbentuk sempurna.
Yang satu menghembuskan wangi semerbak, satunya lagi memancarkan bau amis menusuk hidung sesuai syarat sayembara.
Kepiawaian Akal Dewi Kili Suci

Kabar kemenangan Lembu Suro segera mengguncang Istana Jenggala. Dewi Kili Suci dan Raja pun terkejut bukan main.
Sang putri merasakan ketakutan mencengkeram dadanya. Ia tak bisa membayangkan hidup berdampingan dengan sosok buas berkepala lembu, meski mengagumi kesaktiannya.
Namun, Dewi Kili Suci bukan putri biasa. Otaknya cepat bekerja, mencari celah keluar dari janji yang terlanjur diucapkan. Ia tahu bahwa membatalkan perjanjian secara terang-terangan bisa berakibat fatal. Maka lahirlah rencana licik dalam benaknya.
Dengan tenang ia menghadap ayahandanya, mengajukan permintaan.
“Sebelum menerima Lembu Suro sebagai suami, izinkan putri memeriksa langsung sumur buatannya. Putri ingin memastikan kedalaman dan bau khasnya sesuai syarat.”
Raja menyambut ide itu sebagai harapan terakhir, dan rombongan istana pun menuju Gunung Kelud. Di sana, Lembu Suro sudah menanti dengan bangga, menantikan mahkota kemenangannya tanpa tahu bahwa malapetaka tengah disusun di balik pujian.
Sumpah Dendam dari Dasar Gunung

Sesampainya di puncak, Dewi Kili Suci memuji sumur buatan Lembu Suro. Tapi kemudian, dengan nada lembut namun penuh jebakan, ia berkata:
“Kakang, bolehkah engkau masuk ke dalam sumur amis itu? Hamba ingin mendengar langsung darimu, apakah benar baunya menyengat sesuai permintaan.”
Lembu Suro, yang tengah larut dalam euforia kemenangan, menuruti permintaan itu tanpa curiga. Ia turun ke dalam sumur.
Begitu tubuh Lembu Suro tak lagi terlihat, Dewi Kili Suci memberi isyarat cepat. Para prajurit yang telah bersiaga segera menggulingkan batu-batu besar ke dalam sumur, diikuti tumpukan tanah yang menimbun dengan cepat.
Dari dalam sumur, terdengar teriakan keras. Lembu Suro mencoba naik, namun tertimbun. Suaranya kian lemah. Di ambang kematian, ia mengerahkan tenaga terakhir untuk mengutuk:
“Wong Kediri, bakal entuk piwales saking pengkhianatan ku iki. Kediri bakal dadi kali, Tulungagung dadi Kedung Blitar dadi latar.
Konon, lubang tempat terkuburnya Lembu Suro itulah yang kini dikenal sebagai kawah Gunung Kelud.
Amarah Lembu Suro tak mati bersama jasadnya. Ia tetap hidup dalam gelegar Gunung Kelud yang meletus dari waktu ke waktu, membawa pesan dendam dari masa silam.





