Sementara itu, Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Timur Muhammad Yahya memfokuskan paparannya pada tantangan konkret bonus demografi serta langkah menyambut Indonesia Emas 2045. Ia menyayangkan masih ada remaja yang mengetahui istilah bonus demografi tetapi belum memahami konsekuensi maupun persiapan yang diperlukan.
Oleh karena itu, ia mendorong setiap individu untuk mengenali potensi diri dan mengasahnya di bidang yang diminati. Hal tersebut dapat dilakukan melalui pengembangan kemampuan komunikasi, teknologi digital, maupun keahlian spesifik lainnya.
Yahya juga mengingatkan laju perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang sangat masif. Literasi digital perlu ditingkatkan agar teknologi menjadi alat bantu untuk meningkatkan kemampuan. Jangan sampai teknologi justru mendikte pola pikir penggunanya.
“Tantangan hari ini terkait dunia digital. Banyak yang sudah tahu, tetapi banyak juga yang bukan menguasai, melainkan cenderung dikuasai. Harapannya, literasi teman-teman Gen Z diperbaiki dan diperbanyak lagi sehingga menjadi agen yang benar-benar menguasai perubahan, termasuk AI dan dunia digital,” jelasnya.
Di sisi lain, Ketua KPU Kota Blitar Rangga Bisma Aditya menyoroti perubahan pola demokrasi di tengah perkembangan teknologi digital. Ia mengajak generasi muda memahami perubahan demokrasi dari pola konvensional menuju ruang digital.
Rangga juga memperkenalkan gagasan “to be the new” yang dikaitkannya dengan pemikiran Bung Karno tentang demokrasi. Gagasan tersebut menjadi bagian dari upaya melihat kembali kehidupan demokrasi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Menurutnya, perubahan tersebut perlu diikuti kemampuan anak muda dalam mengimplementasikan nilai-nilai demokrasi secara positif di ruang digital.
