PatriaPos Indonesia | Portal Media Independen Terkini & Terpercaya

FOMO Sebagai Mesin Pendorong: Melihat Sisi Positif dari Rasa Takut Ketinggalan

Ilustrasi FOMO atau Fear of Missing Out, kecenderungan seseorang merasa takut tertinggal informasi atau tren terkini.
Ilustrasi FOMO atau Fear of Missing Out, kecenderungan seseorang merasa takut tertinggal informasi atau tren terkini.

PatriaPos.Com – Saya yakin kita semua pernah merasakan bagaimana rasanya takut ketinggalan berita atau yang biasa disebut FOMO (Fear Of Missing Out). Bayangkan saat teman kita membahas sebuah topik yang klaimnya sedang trending, dan.. oh, tidak! Kita sama sekali tidak tahu menahu tentang hal itu! Saat itulah tercipta getaran aneh yang dipicu oleh alam bawah sadar kita.

FOMO memang telah lama dikaitkan dengan stigma negatif, bahkan sering digambarkan sebagai musuh yang harus dikalahkan dalam berbagai artikel pengembangan diri. Namun, bagaimana jika di balik reputasi buruknya, FOMO justru menyimpan potensi sebagai katalis tersembunyi untuk pertumbuhan pribadi?

Perkenalkan, saya Josephine Gloria Onggara, mahasiswa program studi Sastra Inggris di Universitas Bangka Belitung. Sebagai mahasiswa semester satu yang baru menjalani perkuliahan sekitar tiga hingga empat bulan, saya ingin mengakhiri fase awal perkuliahan ini dengan membagikan pandangan tentang FOMO dari sudut yang lebih positif.

Percaya atau tidak, FOMO dapat berfungsi sebagai mesin pendorong produktivitas. Desakan “jangan sampai ketinggalan” kerap memacu seseorang untuk berinovasi dan menciptakan karya-karya baru. Perasaan was was karena takut ketinggalan informasi ternyata mampu mendorong banyak orang untuk mempelajari keterampilan baru, sekaligus menanamkan ilmu secara tidak terduga. Dalam dosis yang tepat, FOMO bahkan dapat menjadi penangkal stagnasi dan kemalasan.

Begini contoh skenarionya: ketika seseorang merasakan FOMO dan melihat kegiatan seperti melukis sedang menjadi tren, dorongan itu dapat memicunya untuk menggali informasi lebih dalam. Tujuannya agar ia lebih familiar dan mampu berbaur dengan percakapan masa kini.

Memang, bagi sebagian orang, hal ini mungkin dianggap sepele atau bahkan negatif. Namun, dari sisi positifnya, FOMO justru dapat memicu kita untuk mempelajari sesuatu yang sebelumnya tidak kita ketahui. Menambah wawasan, ilmu, dan pengalaman tentu merupakan hal yang baik. Dengan kata lain, rasa FOMO bisa memperkuat keingintahuan kita dan mendorong kita untuk mencoba hal-hal baru, dimotivasi oleh keinginan untuk tetap terhubung.

Tidak kalah penting, FOMO juga dapat berperan sebagai perekat sosial. Mengapa? Karena keinginan untuk menjadi bagian dari suatu kelompok adalah bagian mendasar dari sifat manusia. FOMO mendorong kita untuk tetap aktif bersosialisasi, mulai dari membalas chat grup, menghadiri reuni, hingga mengikuti obrolan tentang serial yang sedang viral. Dengan begitu, FOMO membantu kita menjaga keterhubungan dengan komunitas dan mencegah terjadinya isolasi sosial.

Pada akhirnya, hidup yang penuh makna bukanlah hidup yang bebas dari FOMO. Justru dengan memanfaatkan gelombang FOMO sebagai pendorong, kita dapat mengarahkan diri menjadi individu yang lebih berkembang dan berarti. Oleh karena itu, alih-alih berusaha menghilangkan rasa FOMO yang mungkin sudah tertanam dalam diri, lebih baik kita menjadikannya sebagai alat untuk mendorong kemajuan pribadi.

FOMO Sebagai Mesin Pendorong: Melihat Sisi Positif dari Rasa Takut Ketinggalan - Patriapos

 

Nama : Josephine Gloria Onggara

Universitas Bangka Belitung

Prodi : Sastra Inggris