PatriaPos.Com – Sastra sering dianggap sekadar karya hiburan, padahal keberadaannya jauh lebih dari itu. Ia adalah cermin yang memantulkan kondisi manusia, masyarakat, dan peradaban. Dalam setiap bait puisi, paragraf cerpen, atau bab novel, terdapat pergulatan batin, kritik sosial, serta harapan tentang masa depan. Di era digital yang serba cepat, keberadaan sastra justru semakin penting sebagai ruang refleksi yang menenangkan dan memperluas kesadaran.
Di tengah derasnya informasi instan, sastra mengajak kita berhenti sejenak untuk memahami emosi dan pengalaman manusia secara lebih dalam. Melalui tokoh-tokohnya, pembaca dapat merasakan kehidupan orang lain tanpa harus mengalaminya secara langsung. Inilah mengapa sastra sering disebut sebagai jembatan empati. Ketika seseorang membaca kisah tentang perjuangan, ketidakadilan, atau cinta yang rumit, ia seperti diajak menelusuri realitas sosial yang mungkin selama ini terabaikan.
Lebih dari sekadar hiburan, sastra juga berfungsi sebagai alat kritik. Banyak karya yang lahir sebagai respon terhadap situasi politik atau ketimpangan sosial, dari zaman kolonial hingga masa kini. Karya sastra mampu menyampaikan kritik secara halus namun mengena, sehingga pembaca dapat melihat masalah dengan sudut pandang baru. Peran ini penting karena tidak semua orang berani atau mampu menyampaikan kritik secara langsung.
Namun sayangnya, minat baca sastra di kalangan generasi muda cenderung menurun. Buku-buku klasik sering dianggap membosankan, dan karya sastra modern kalah bersaing dengan konten digital yang lebih cepat dikonsumsi. Padahal, tanpa kesadaran membaca sastra, generasi muda bisa kehilangan salah satu sarana terbaik untuk mempertajam empati, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis.
Karena itu, penting bagi sekolah maupun masyarakat untuk menghidupkan kembali budaya membaca sastra. Mengadakan diskusi buku, mengenalkan penulis lokal, dan memanfaatkan platform digital untuk mempublikasikan karya dapat menjadi langkah awal yang efektif. Sastra tidak boleh hanya dipandang sebagai materi pelajaran, tetapi sebagai kebutuhan batin yang dapat memperkaya kehidupan.
Pada akhirnya, sastra adalah warisan budaya yang menjaga kepekaan manusia tetap hidup. Dalam dunia yang semakin bising dan serba cepat, sastra mengajarkan kita untuk kembali pada inti kemanusiaan: memahami, merasakan, dan menyadari bahwa setiap manusia membawa cerita yang layak dihargai. Selama kita masih membutuhkan ruang untuk merenung, sastra akan selalu relevan.

Nama: Gita Ramadani
Mahasiswa Universitas Bangka Belitung
Prodi : Sastra Inggris





