PatriaPos.Com – Baju adat pengantin Paksian Bangka Belitung, yang dulunya menjadi kebanggaan masyarakat Melayu Bangka Belitung, kini mulai jarang terlihat di pelaminan. Warisan budaya yang sarat makna ini perlahan tergeser oleh busana modern yang dianggap lebih praktis dan mengikuti tren masa kini.
Baju Paksian memiliki sejarah panjang yang berasal dari akulturasi budaya Melayu, Arab, dan Tionghoa yang telah lama berkembang di Kepulauan Bangka Belitung. Dahulu, baju ini dikenakan oleh kedua mempelai dalam upacara pernikahan adat sebagai simbol kehormatan, kesucian, dan kemuliaan.
Pengantin wanita mengenakan baju Seting merah dari kain beludru atau sutra dengan kain Cual tenun ikat asli Bangka Belitung sebagai bawahan, lengkap dengan mahkota emas, penutup dada, tutup sanggul, kalung, anting, sepit, gelang, dan ronce melati.
Pengantin pria memakai jubah merah tua hingga lutut dengan selendang di bahu kanan, celana panjang senada, dan pending selop atau sandal Arab, semuanya bermotif dan berornamen serasi, melambangkan keharmonisan budaya.
Namun kini, tradisi itu mulai memudar. Banyak pasangan muda yang lebih memilih mengenakan gaun pengantin bergaya barat atau pakaian modern lainnya. Pergeseran ini tidak hanya menunjukkan perubahan selera, tetapi juga menandakan menurunnya kesadaran terhadap pentingnya melestarikan identitas budaya daerah.
Menurut beberapa pemerhati budaya, kurangnya edukasi dan promosi tentang makna baju adat turut mempercepat hilangnya minat generasi muda terhadap Baju Adat Paksian. Selain itu, jumlah perajin dan penjahit tradisional yang mampu membuat busana Paksian dengan detail aslinya juga semakin terbatas.
Padahal, pelestarian baju adat Paksian penting sebagai wujud kebanggaan terhadap warisan leluhur. Melalui kegiatan seperti festival budaya, pameran adat, dan edukasi di sekolah, Baju Adat Paksian dapat kembali dikenal dan dicintai Masyarakat.
Jika tidak ada upaya nyata untuk melestarikannya, bukan tidak mungkin suatu saat baju adat pengantin Paksian hanya tinggal cerita. Di tengah arus modernisasi, menjaga warisan budaya bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga meneguhkan jati diri Bangka Belitung di masa depan.
Oleh : Ainalia Nurania
Mahasiswa Universitas Bangka Belitung





