PatriaPos.com, Blitar – Tantangan pendidikan dan dinamika yang dihadapi generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi menjadi sorotan dalam kegiatan Sosialisasi Pendidikan terhadap Dinamika Pemerintahan. Acara tersebut digelar di Esteje Cafe, Desa Tulungrejo, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Sabtu (26/9/2026).
Agenda yang menghadirkan elemen muda, termasuk Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), menjadi ruang diskusi untuk menyuarakan berbagai persoalan. Mulai dari akses pendidikan, kondisi guru honorer, hingga fenomena perundungan atau cyberbullying yang kini tidak hanya terjadi di ruang konvensional, tetapi juga merambah ruang digital.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Guntur Wahono, menilai aspirasi generasi muda perlu didengar secara langsung agar dapat menjadi bahan pertimbangan dalam mendorong kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Tantangan Pendidikan dan Kesejahteraan Guru
Dalam forum itu, para peserta menyampaikan sejumlah tantangan yang mereka temui di lingkungan pendidikan maupun masyarakat, di antaranya terkait perundungan melalui media digital.
Selain itu, para peserta juga menyoroti akses pendidikan, baik dari sisi sarana fisik maupun keberadaan tenaga pendidik. Persoalan yang dihadapi guru honorer turut menjadi bagian dari aspirasi yang disampaikan.
Berbagai masukan tersebut diharapkan dapat diteruskan kepada para pemangku kebijakan di tingkat kabupaten maupun provinsi, sehingga aspirasi anak muda tidak hanya berhenti dalam forum diskusi.
Ketua Pimpinan Cabang IPNU Kabupaten Blitar, Muhammad Miftahusrul, mengatakan kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada pelajar untuk menyampaikan berbagai gagasan dan persoalan yang mereka hadapi.
“Pada kesempatan kali ini, teman-teman menyuarakan apa yang menjadi gagasan, yang dampaknya nanti untuk Kabupaten Blitar, Jawa Timur, dan Indonesia,” kata Miftahusrul.

Menurutnya, persoalan yang dibahas tidak hanya berkaitan dengan organisasi, tetapi juga menyangkut isu yang dirasakan masyarakat secara lebih luas.
Ia menyebut persoalan bullying, akses pendidikan, hingga kondisi guru honorer menjadi bagian dari aspirasi yang disampaikan dalam forum.
“Harapannya, kami dari pelajar NU Kabupaten Blitar, kegiatan ini memang benar-benar berdampak kepada masyarakat secara keseluruhan, tidak terkhusus pada pelajar NU Blitar, tapi kepada pelajar se-Kabupaten Blitar,” ujarnya.
Urgensi Pendidikan Karakter di Tengah Arus Digital
Sementara itu, Rangga Bisma Aditya selaku pemateri menyoroti perubahan lingkungan pendidikan seiring perkembangan teknologi digital.
Menurutnya, perkembangan peradaban digital membawa tantangan terhadap pembentukan karakter generasi muda. Karena itu, pendidikan karakter, pendidikan keluarga, serta keterlibatan orang tua menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Rangga juga menyinggung persoalan cyberbullying yang saat ini tidak lagi terbatas pada ruang fisik, tetapi telah merambah ke ranah digital.
Menurutnya, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memperkuat pendidikan parenting bagi orang tua. Keterlibatan keluarga dinilai penting dalam mendampingi anak menghadapi perkembangan teknologi.
Ia mencontohkan, komite sekolah tidak seharusnya hanya membahas persoalan seragam maupun pembangunan fasilitas, tetapi juga dapat menjadi ruang edukasi bagi orang tua mengenai pendampingan anak.
“Pendidikan keluarga itu penting, termasuk soal penanganan cyberbullying yang mana bullying itu sudah tidak hanya di ruang konvensional, tapi sudah merambah ke ranah digital,” ujarnya.
Menurut Rangga, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan juga dapat mengambil langkah melalui kebijakan yang berada dalam kewenangannya, termasuk penguatan pendidikan karakter dan parenting.
Komitmen Guntur Tindak Lanjuti Aspirasi
Di sisi lain, Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Guntur Wahono menegaskan bahwa forum tersebut menjadi ruang untuk mendengar langsung berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda.
Berbagai aspirasi yang disampaikan peserta, menurut Guntur, perlu ditindaklanjuti dengan melibatkan pihak-pihak yang memiliki kewenangan sehingga persoalan tersebut dapat dicari jalan keluarnya.
“Jadi intinya kita pengen memberikan satu bekal kepada generasi muda. Selama ini kan merasa kurang tersentuh oleh kita, tapi menganggap itu penting, menganggap itu perlu, dan kewajiban kita adalah memfasilitasi kepentingan-kepentingan itu,” kata Guntur.
Menurut Guntur, pertemuan tersebut tidak seharusnya berhenti pada satu kegiatan. Ia mendorong agar forum serupa kembali digelar dengan melibatkan lebih banyak pihak terkait.
“Pertemuan ini tidak cuma sekali, ini harus dilanjutkan lagi, baik secara formal maupun informal. Tetapi di dalam pertemuan ke depan perlu kiranya kita mengundang pihak-pihak yang berkepentingan untuk bisa mendengarkan langsung dan sekaligus membuat satu arah kebijakan,” ujarnya.
Guntur menambahkan, penyelesaian persoalan generasi muda membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan organisasi perangkat daerah yang menangani persoalan terkait.
Ia berharap komunikasi antara generasi muda dengan pemangku kebijakan terus dibangun agar berbagai aspirasi yang disampaikan dapat ditindaklanjuti sesuai kewenangan masing-masing.
“Kami akan merasa bersyukur, kami akan merasa bermanfaat manakala kami bisa ikut mengurai, mencarikan jalan keluar, mencarikan solusi persoalan-persoalan yang sedang dihadapi oleh anak-anak muda saat ini,” pungkasnya.

