Home / Gaya Hidup / Sering Beli Barang Murah? Hati-Hati, Kebiasaan Ini Bisa Bikin Pengeluaran Membengkak

Sering Beli Barang Murah? Hati-Hati, Kebiasaan Ini Bisa Bikin Pengeluaran Membengkak

Hutchrock online 2900303
Caption gambar yang cocok:Ilustrasi seseorang sedang memilih dan membeli barang melalui aplikasi belanja online.(Pexels)

Seseorang mungkin memilih barang dengan harga paling rendah karena ingin mengurangi pengeluaran. Namun, jika kualitasnya kurang baik dan cepat rusak, biaya penggantian akan terus muncul.

Hal yang sama dapat terjadi pada pakaian, sepatu, tas, peralatan elektronik sederhana, perlengkapan dapur, hingga berbagai barang yang digunakan sehari-hari.

Bukan berarti produk murah pasti berkualitas rendah.

Ada banyak barang murah yang tetap memiliki kualitas baik.

Yang perlu diperhatikan adalah apakah harga tersebut sebanding dengan fungsi dan daya tahannya.

Jika sebuah barang murah bisa digunakan dalam waktu lama, tentu tidak menjadi masalah.

Namun, jika harus berkali-kali membeli barang yang sama, perhitungan akhirnya menjadi berbeda.

Jangan Terkecoh Harga Satuan

Kesalahan lain yang cukup sering terjadi adalah hanya melihat harga satuan.

Misalnya sebuah produk dijual Rp5 ribu. Angka tersebut terlihat kecil sehingga terasa tidak akan memengaruhi kondisi keuangan.

Namun jika setiap hari membeli barang seharga Rp5 ribu yang sebenarnya tidak diperlukan, dalam sebulan jumlahnya bisa mencapai sekitar Rp150 ribu.

Begitu pula dengan pembelian kecil lainnya.

Rp10 ribu untuk minuman, Rp15 ribu untuk camilan, Rp20 ribu untuk barang kecil, dan berbagai transaksi lain mungkin tidak terasa ketika dilakukan secara terpisah.

Masalah baru terlihat ketika seluruh pengeluaran tersebut dijumlahkan.

Karena itu, orang yang ingin lebih hemat sebaiknya tidak hanya memperhatikan pembelian besar.

Pengeluaran kecil justru perlu diperhatikan karena sering terjadi tanpa banyak pertimbangan.

Bedakan Kebutuhan dan Keinginan

Sebelum membeli barang murah, ada baiknya berhenti sebentar dan bertanya kepada diri sendiri.

“Apakah saya memang membutuhkan barang ini?”

Jika jawabannya iya, pertanyaan berikutnya adalah apakah barang tersebut akan digunakan secara rutin.

Jika jawabannya tidak, kemungkinan besar pembelian tersebut hanya didorong oleh keinginan sesaat.

Cara sederhana ini dapat membantu mengurangi pembelian impulsif.

Tidak perlu membuat aturan yang terlalu rumit. Cukup memberi jeda sebelum membeli.

Untuk barang kecil, jeda beberapa menit saja bisa membantu.

Sedangkan untuk barang yang lebih mahal, sebaiknya pikirkan kembali selama satu atau dua hari sebelum mengambil keputusan.