BLITAR, PatriaPos.com – Candi Penataran di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan Kerajaan Kediri, Singhasari, hingga Majapahit.
Kompleks candi bercorak Hindu Siwa ini diperkirakan mulai dibangun pada masa pemerintahan Raja Srengga dari Kediri pada akhir abad ke-12. Pembangunannya kemudian terus berlanjut pada masa kerajaan-kerajaan berikutnya.
Berada di lereng barat daya Gunung Kelud, Candi Penataran diduga memiliki peran dalam kegiatan keagamaan masyarakat Jawa tempo dulu.
Kompleks yang juga dikenal dengan nama Candi Palah tersebut merupakan salah satu peninggalan sejarah di Jawa Timur.
Berbeda dengan candi yang dibangun dalam satu periode pemerintahan, Candi Penataran memperlihatkan rekam jejak pembangunan bertahap selama beberapa generasi.
Bangunan, arca, prasasti, dan relief yang masih dapat dijumpai hingga kini menjadi bukti perkembangan seni bangunan serta tradisi keagamaan pada masa Hindu-Buddha di Jawa.
Secara geografis, Candi Penataran terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Jika ditempuh menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat dari pusat Kota Blitar, jaraknya sekitar 13 kilometer.
Kawasan ini memiliki sejumlah bangunan yang tersusun dalam tiga halaman, mulai dari bagian luar, tengah, hingga area belakang yang dianggap sakral.
Setiap halaman memiliki bangunan dan karakter tersendiri. Susunan tersebut memperlihatkan perkembangan lingkungan candi dari masa ke masa.
Awal Mula Candi Penataran dan Hubungannya dengan Gunung Kelud

Sejarah Candi Penataran tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Gunung Kelud. Gunung api aktif di Jawa Timur ini telah mengalami berbagai erupsi sepanjang sejarah.
Bagi masyarakat peradaban zaman dulu, peristiwa letusan gunung tidak hanya diartikan sebagai fenomena alam, tetapi juga berkaitan dengan keyakinan tentang hubungan manusia dan kekuatan gaib.
Dalam konteks tersebut, pendirian tempat suci di kawasan sekitar gunung menunjukkan adanya sarana pemujaan untuk memohon keselamatan.
Candi Penataran diperkirakan menjadi lokasi pemujaan umat Hindu kepada Dewa Siwa, khususnya dalam kedudukannya sebagai penguasa gunung.
Keyakinan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat pada masa itu memaknai lingkungan alam melalui ritual dan simbol keagamaan.
Salah satu kisah mitologis yang berkaitan dengan pemahaman masyarakat Jawa kuno mengenai gunung terdapat dalam naskah Tantu Panggelaran. Naskah tersebut memuat berbagai kisah mengenai para dewa, gunung, dan tatanan semesta.
Prasasti Palah Menjadi Petunjuk Sejarah
Salah satu peninggalan penting untuk menelusuri sejarah Candi Penataran adalah Prasasti Palah. Nama “Palah” dipercaya sebagai nama asli atau nama kuno dari kompleks tempat suci tersebut.
Berdasarkan catatan sejarah dari masa Kerajaan Kediri, keberadaan tempat suci Penataran berkaitan dengan pemerintahan Raja Srengga pada akhir abad ke-12.
Prasasti yang bertarikh 1197 Masehi menjadi bukti mengenai keberadaan kawasan suci tersebut.
Peninggalan itu menunjukkan bahwa kawasan Penataran telah memiliki fungsi keagamaan sebelum Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya.
Seiring berjalannya waktu, kompleks Penataran terus mengalami perombakan. Berbagai bangunan baru didirikan dan struktur yang lama dipugar untuk menyesuaikan dengan kebutuhan ritual keagamaan pada masa kerajaan-kerajaan berikutnya.
Berkembang dari Zaman Kediri hingga Majapahit
Perjalanan sejarah Candi Penataran terus berlanjut setelah runtuhnya Kerajaan Kediri. Kompleks suci ini mengalami pemugaran dan perluasan mulai dari masa Singhasari hingga Majapahit.
Jejak arsitektur dari berbagai era itu menjadikan Penataran sebagai situs purbakala yang memperlihatkan kesinambungan tradisi keagamaan di Jawa Timur.
Sejumlah kajian arkeologi mengidentifikasi keterkaitan para penguasa lintas zaman terhadap situs ini.
Selain Raja Srengga dari Kediri, beberapa raja dari dinasti Singhasari dan Majapahit juga menaruh perhatian terhadap kelangsungan Candi Penataran.
Perbedaan periode pembangunan tersebut dapat diamati melalui variasi bentuk bangunan, ragam hias relief, serta angka tahun yang terpahat pada beberapa komponen candi.
Karakteristik fisik ini menunjukkan bahwa Candi Penataran dikembangkan secara bertahap untuk menyesuaikan kebutuhan ritual kerajaan dari waktu ke waktu. Memasuki era Majapahit, kedudukan candi ini semakin terlihat.
Kitab Desawarnana atau Negarakertagama karya Mpu Prapanca yang digubah pada tahun 1365 mencatat bahwa Palah merupakan salah satu tempat suci yang dikunjungi Raja Hayam Wuruk saat melakukan perjalanan keliling Jawa Timur. Catatan ini menunjukkan hubungan antara Candi Penataran dengan lingkungan kekuasaan Majapahit.
Dalam tradisi Hindu Siwa, peribadatan di tempat suci yang berada dekat dengan lereng gunung memiliki nilai sakral. Keberadaan Penataran tidak hanya berkaitan dengan ritual masyarakat sekitar, tetapi juga dengan kegiatan peribadatan pada masa kerajaan.
Mengenal Tiga Halaman Kompleks Candi Penataran

Salah satu keunikan Candi Penataran terletak pada tata ruangnya yang mengadopsi pola linier. Kompleks ini terbagi menjadi tiga halaman bertingkat yang tersusun berurutan dari bagian depan luar menuju area suci di bagian dalam. Setiap halaman memiliki karakteristik arsitektur dan fungsi berbeda, yang mencerminkan tingkatan kesakralan dalam kegiatan keagamaan masa lalu.
Di halaman paling depan, pengunjung akan menemukan sepasang arca Dwarapala berukuran besar yang berfungsi sebagai penjaga pintu masuk kawasan suci.
Setelah memasuki area ini, terdapat beberapa bangunan penting seperti Bale Agung dan Pendopo Teras. Struktur berupa batur atau landasan tinggi ini memperlihatkan keberadaan ruang pendukung upacara di luar tempat pemujaan utama.
Daya tarik lain di halaman pertama ini adalah permukaan Pendopo Teras yang dihiasi relief cerita Panji, sebuah kisah kesusastraan Jawa kuno tentang pengembaraan dan romansa.
Selain itu, terdapat pula Candi Angka Tahun dengan pahatan angka 1269 Saka (1347 Masehi) pada ambang pintunya, serta sebuah arca Ganesha yang dihormati sebagai dewa pelindung sekaligus penghancur rintangan.
Melangkah ke halaman tengah, pengunjung akan menemukan Candi Naga, sebuah bangunan yang dinamakan demikian karena sekeliling tubuh candinya dihiasi relief naga berukuran besar. Relief tersebut dipahat seolah-olah sedang disangga oleh sejumlah figur manusia berbusana bangsawan.
Halaman belakang merupakan zona inti yang menyimpan bangunan Candi Induk. Sebagai struktur terbesar di kompleks ini, Candi Induk memiliki kedudukan penting dalam rangkaian upacara pemujaan.
Relief Ramayana, Kresnayana, dan Simbol Naga

Rangkaian relief yang terpahat pada dinding bangunan menjadi bagian dari kompleks Candi Penataran.
Dinding Candi Induk secara khusus memuat fragmen epik dari kisah Ramayana dan Kresnayana. Kedua wiracarita yang berasal dari tradisi Hindu itu mengisahkan perjalanan Rama serta kehidupan Kresna dalam bentuk seni pahat kuno.
Selain relief naratif, motif naga juga ditemukan pada beberapa bagian penting di kompleks ini.
Dalam kosmologi Hindu, naga merupakan makhluk mitologis yang berkaitan dengan unsur air, kesuburan, pelindung mata angin, dan kekuatan alam bawah.
Simbolisme ini muncul pada hiasan Bale Agung, Pendopo Teras, hingga arsitektur Candi Naga.
Sebuah penafsiran arkeologis mengaitkan visualisasi Candi Naga dengan mitos Samudra Manthana, yaitu kisah pengadukan samudra susu oleh para dewa dan asura demi mendapatkan amerta (air keabadian).
Dalam mitologi tersebut, seekor naga raksasa digunakan sebagai tali penarik untuk memutar gunung yang bertindak sebagai poros pengaduknya.
Hubungan antara relief Candi Naga dan naskah Samudra Manthana masih terbuka untuk kajian lebih lanjut. Identitas figur-figur berbusana bangsawan yang memikul tubuh naga tersebut serta makna filosofis reliefnya masih menjadi objek penelitian melalui perbandingan pustaka kuno dan temuan purbakala lainnya.
Misteri Bentuk Asli Candi Induk
Sebagai bangunan utama di kompleks Candi Penataran, Candi Induk memiliki sejumlah bagian arsitektur yang tidak lagi utuh. Wujud bangunan yang berdiri saat ini tidak lagi memperlihatkan struktur lengkap seperti sedia kala. Bagian yang tersisa didominasi struktur kaki dan teras bertingkat, sedangkan bagian tubuh serta atapnya sudah runtuh dimakan usia.
Kondisi tersebut membuat para arkeolog mengandalkan metode perbandingan sejarah untuk merekonstruksi perkiraan bentuk aslinya. Perbandingan arsitektur dengan candi-candi sezaman di Jawa dan Bali dapat memberikan gambaran mengenai teknik pembangunan masa lalu.
Selain kondisi bangunan, sejumlah arca di sekitar kompleks juga menyisakan pertanyaan mengenai identitas tokoh yang dipahatkan. Para ahli ikonografi meneliti atribut fisik seperti kapak (parasu), tasbih (aksamala), serta jenis tanaman yang dipegang oleh arca-arca tersebut. Penentuan identitas dewa-dewa ini memerlukan kajian lebih lanjut dengan membandingkannya dengan teks-teks keagamaan kuno serta temuan prasasti lain yang relevan.
Candi Penataran dan Warisan Sejarah Blitar
Candi Penataran merupakan monumen sejarah di Kabupaten Blitar yang merekam dinamika kebudayaan Jawa sejak era Kediri, Singhasari, hingga Majapahit. Letak geografisnya di lereng barat daya Gunung Kelud menjadi bagian dari konteks sejarah hubungan masyarakat Jawa kuno dengan lingkungan alam dan tradisi keagamaan.
Keberadaan kompleks ini menunjukkan keberlanjutan perawatan dan pengembangan tempat suci ketika sebuah dinasti berganti. Tempat suci yang diinisiasi pada masa Kerajaan Kediri ini tetap dirawat dan diperluas oleh para penguasa setelahnya. Berbagai corak seni, arsitektur, dan tradisi keagamaan dari lintas zaman terdapat dalam satu kawasan terpadu.
Dalam sejarah modern, Candi Penataran mulai mendapat perhatian internasional saat dikunjungi oleh Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1815 bersama seorang naturalis, Dr. Thomas Horsfield. Pendokumentasian awal yang tertuang dalam buku The History of Java menjadi bagian dari perkembangan penelitian arkeologi modern terhadap Candi Penataran.
Kini, Candi Penataran menjadi salah satu warisan budaya nasional. Relief dan susunan batu yang masih bertahan hingga kini menjadi bagian dari peninggalan sejarah yang dapat dipelajari untuk memahami perkembangan kebudayaan pada masa lalu.

