Home / Berita Daerah / Isu Unjuk Rasa Mencuat, Warga Ngadirenggo Blitar Soroti Kepentingan di Balik Demo

Isu Unjuk Rasa Mencuat, Warga Ngadirenggo Blitar Soroti Kepentingan di Balik Demo

Sejumlah tokoh dusun di Desa Ngadirenggo, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, menggalang tanda tangan sebagai bentuk penyampaian dukungan terhadap Greenfields di tengah isu rencana demonstrasi.
Sejumlah tokoh dusun di Desa Ngadirenggo, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, menggalang tanda tangan sebagai bentuk penyampaian dukungan terhadap Greenfields di tengah isu rencana demonstrasi.

BLITAR, PatriaPos.com – Rencana unjuk rasa terhadap perusahaan Greenfields di kawasan Desa Ngadirenggo, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, memunculkan perbedaan pandangan mengenai aspirasi warga sekitar. Sejumlah tokoh dusun setempat menyatakan dukungan kepada perusahaan dengan menggalang tanda tangan warga.

Pengumpulan tanda tangan berlangsung secara bertahap sejak Sabtu hingga Minggu. Kegiatan tersebut melibatkan lebih dari 20 tokoh perwakilan dusun di Desa Ngadirenggo sebagai bentuk penyampaian sikap terhadap isu demonstrasi yang beredar.

Salah seorang warga, Budi, menilai rencana aksi tersebut tidak serta-merta mencerminkan keinginan masyarakat yang tinggal di sekitar perusahaan. Menurutnya, persoalan yang menjadi latar belakang rencana demonstrasi perlu dipisahkan dari pandangan warga secara keseluruhan.

Ia mengatakan, keberadaan perusahaan selama ini dinilai memberikan manfaat bagi masyarakat di lingkungan sekitar.

Baca Juga :  Bupati Blitar Ajak PPDI Bersinergi Wujudkan Pembangunan Desa yang Berkelanjutan

“Warga pada dasarnya tidak ingin terlibat dalam persoalan demonstrasi itu. Selama ini, perusahaan juga dinilai membawa manfaat bagi masyarakat setempat,” ujar Budi, Senin (12/10/2026).

Budi juga menyinggung persoalan ketenagakerjaan yang diduga berkaitan dengan munculnya rencana aksi tersebut. Ia menyebut adanya mantan pekerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dan kemudian mengajak melakukan demonstrasi.

Menurut dia, ajakan tersebut tidak mendapat sambutan dari warga yang berada di lingkungan sekitar perusahaan.

“Setahu saya, persoalan ini bermula dari seseorang yang pernah bekerja di perusahaan lalu terkena PHK. Setelah itu, muncul ajakan untuk melakukan demonstrasi, tetapi warga lainnya tidak ikut,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan Negrohediono, warga Desa Ngadirenggo. Ia mengingatkan agar rencana demonstrasi tidak langsung dianggap sebagai representasi seluruh masyarakat desa.

Baca Juga :  Satlantas Polres Blitar Gelar Edukasi Lalu Lintas di MTsN 4 Blitar dalam Rangka Operasi Patuh Semeru 2025

Menurutnya, perlu ada kejelasan mengenai pihak yang menyuarakan tuntutan serta kepentingan yang hendak diperjuangkan. Dengan demikian, aspirasi individu atau kelompok tidak disamakan dengan sikap seluruh warga.

“Penting untuk memastikan bahwa aksi itu memang membawa aspirasi masyarakat, bukan hanya kepentingan orang atau kelompok tertentu. Jangan sampai masyarakat seolah-olah dianggap mendukung semuanya,” ujarnya.

Di tengah munculnya isu tersebut, pengumpulan tanda tangan oleh para tokoh dusun menjadi salah satu cara warga menyampaikan pandangan mereka. Sikap itu juga menunjukkan bahwa persoalan rencana demonstrasi mendapat tanggapan beragam di lingkungan setempat.

Warga berharap perbedaan pandangan mengenai perusahaan maupun persoalan ketenagakerjaan tidak berkembang menjadi konflik sosial.