Home / Budaya & Sejarah / Gua Batu Gantung Banyuwangi, Situs Sakral di Lereng Gunung Raung yang Dikaitkan dengan Resi Markandeya

Gua Batu Gantung Banyuwangi, Situs Sakral di Lereng Gunung Raung yang Dikaitkan dengan Resi Markandeya

Polish 20260910
Pura yang berada di dekat Gua Batu Gantung, Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, di kawasan lereng Gunung Raung.

BANYUWANGI – Gua Batu Gantung di Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menjadi salah satu situs yang menyimpan cerita sejarah dan tradisi spiritual di lereng Gunung Raung. Berada di kawasan hutan dan dikelilingi pepohonan pinus, tempat ini dikenal masyarakat Hindu setempat sebagai kawasan sakral yang diyakini memiliki keterkaitan dengan perjalanan Maha Resi Markandeya.

Gua Batu Gantung berada di wilayah Banyuwangi bagian barat, tidak jauh dari sejumlah situs religi yang tersebar di kawasan lereng selatan Gunung Raung. Lokasinya relatif tersembunyi karena pengunjung harus melewati jalan kecil menuju kawasan hutan sebelum melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Nama Batu Gantung tidak lepas dari keberadaan sebuah batu besar yang berada di antara tebing. Batu tersebut tampak seolah-olah menggantung dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari cerita masyarakat mengenai kawasan tersebut.

Berada di Lereng Gunung Raung

Desa Bumiharjo merupakan salah satu wilayah di Kecamatan Glenmore yang berada di sisi selatan Gunung Raung. Secara administratif, Glenmore termasuk Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Sementara itu, Gunung Raung merupakan salah satu gunung api besar yang berada di kawasan timur Pulau Jawa.

Karakter wilayah yang berada di lereng gunung membuat kawasan Bumiharjo memiliki bentang alam berupa perbukitan, perkebunan, dan hutan. Di kawasan tersebut juga berkembang sejumlah situs yang berkaitan dengan sejarah, kebudayaan, serta tradisi keagamaan masyarakat setempat.

Sejumlah catatan mengenai kawasan wisata dan kebudayaan di Banyuwangi menyebut Glenmore dan Kalibaru memiliki berbagai situs yang berada di sekitar lereng Gunung Raung. Salah satunya adalah Beji Antaboga yang dikaitkan dengan petilasan Resi Markandeya dan berkembang sebagai tujuan wisata alam sekaligus wisata religi.

Selain itu, sejumlah situs lain di Desa Bumiharjo juga dikenal masyarakat, antara lain Candi Agung Gumuk Kancil, Beji Sumber Urip, Pura Giri Mulya, Pura Luhur Puncak Raung, hingga Gua Batu Gantung.

Batu Besar yang Diyakini Berkaitan dengan Aktivitas Gunung Raung

Historis mengenai asal-usul Batu Gantung berkembang di tengah masyarakat setempat. Dalam cerita yang diwariskan secara turun-temurun, batu besar tersebut diyakini berkaitan dengan material batuan akibat aktivitas Gunung Raung pada masa lampau.

Batu itu disebut mengalami longsoran atau perpindahan material akibat aktivitas gunung, kemudian berhenti di antara tebing. Seiring waktu, keberadaannya menjadi bagian dari cerita dan identitas kawasan Gua Batu Gantung.

Yang menarik, bentuk batu yang berada di antara tebing tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri. Posisi batu yang tampak menggantung membuat kawasan ini memiliki karakter alam yang berbeda dibandingkan sejumlah situs religi lain di sekitar lereng Gunung Raung.

Di sekitar batu terdapat sebuah gua yang juga menjadi bagian dari kawasan sakral. Gua tersebut tidak terlalu besar, tetapi keberadaannya semakin memperkuat suasana alami dan spiritual yang terasa ketika pengunjung memasuki kawasan.

Dikaitkan dengan Maha Resi Markandeya

Salah satu cerita yang paling kuat melekat pada kawasan Gua Batu Gantung adalah keterkaitannya dengan Maha Resi Markandeya.

Dalam tradisi Hindu, Markandeya dikenal sebagai tokoh spiritual yang memiliki hubungan dengan perjalanan perkembangan Hindu di Bali. Sejumlah situs di lereng Gunung Raung, khususnya di kawasan Bumiharjo dan sekitarnya, dipercaya berkaitan dengan perjalanan serta pertapaan tokoh tersebut.

Jejak tradisi itu juga terlihat pada keberadaan Candi Agung Gumuk Kancil. Situs tersebut berada di Dusun Wonoasih, Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore, dan dipercaya sebagai salah satu petilasan yang berkaitan dengan Maha Resi Markandeya.

Konon, kawasan lereng Raung dahulu dipercaya sebagai tempat pasraman atau tempat untuk menjalani kehidupan dan pembelajaran spiritual. Tradisi setempat juga mengaitkannya dengan masyarakat Jawa Aga yang tinggal di kawasan lereng selatan Gunung Raung. Kisah mengenai Markandeya di wilayah tersebut kemudian memiliki kaitan dengan perjalanan perkembangan tradisi Hindu menuju Bali.

Gua dan Batu Gantung dalam Tradisi Lokal

Sejumlah catatan mengenai kawasan wisata religi di Bumiharjo menyebut Watu Gantung berada sekitar satu kilometer dari kawasan Mata Air Sumber Urip. Lokasi tersebut dikenal dengan keberadaan batu yang menggantung dan juga diyakini memiliki kaitan dengan perjalanan Resi Markandeya.

Adapun Gua Batu Gantung disebut berada sekitar 1,5 kilometer dari Candi Agung Gumuk Kancil. Di lokasi tersebut terdapat batu besar yang menggantung di antara tebing serta sebuah gua di sisi batu.

Kondisi tersebut membuat perjalanan menuju Gua Batu Gantung tidak hanya menawarkan pemandangan alam. Pengunjung juga dapat menemukan ruang yang oleh masyarakat memiliki nilai sejarah dan spiritual.

Dalam konteks tradisi Hindu, tempat semacam ini dapat memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar objek wisata. Ada konsep tirtha, pasraman, hingga aktivitas tapa atau semadi yang dalam tradisi keagamaan memiliki makna spiritual tersendiri.

Tidak semua orang yang datang ke kawasan tersebut memiliki tujuan rekreasi. Sebagian dapat datang untuk bersembahyang, melakukan perjalanan spiritual, atau hanya ingin mengenal sejarah dan kebudayaan masyarakat setempat.

Akses Menuju Gua Batu Gantung

Daya tarik Gua Batu Gantung juga terletak pada suasana perjalanan menuju lokasi. Dari kawasan Desa Bumiharjo, perjalanan menuju situs memakan waktu sekitar 10 hingga 15 menit.

Akses jalan yang sempit membuat kendaraan roda empat belum mudah mencapai lokasi. Kendaraan roda dua lebih memungkinkan digunakan hingga titik tertentu, sebelum pengunjung melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Jalur menuju lokasi membawa pengunjung melewati kawasan yang didominasi pepohonan pinus. Suasana hutan yang masih terasa alami membuat perjalanan menuju situs menjadi bagian dari pengalaman tersendiri.

Sesampainya di kawasan gua, pengunjung masih harus melewati jalur menanjak dan tangga untuk mencapai area utama Batu Gantung.

Bagi wisatawan yang datang ke Banyuwangi, Gua Batu Gantung dapat menjadi pilihan untuk mengenal sisi lain dari The Sunrise of Java. Banyuwangi bukan hanya menawarkan pantai, air terjun, dan pegunungan, tetapi juga menyimpan jejak sejarah, kepercayaan, serta tradisi masyarakat yang berkembang di tengah bentang alamnya.

Traktir Kopi Penulis

Suka dengan tulisan Dwi Lestari? Dukung penulis dengan secangkir kopi.

×

Traktir Kopi Dwi Lestari

Nominal dukungan: Rp10.000

QRIS Traktir Kopi Dwi Lestari

Scan QRIS menggunakan DANA atau aplikasi pembayaran yang mendukung QRIS. Masukkan nominal sesuai pilihan di atas.

Download QRIS
×

Traktir Kopi Dwi Lestari

Nominal dukungan: Rp20.000

QRIS Traktir Kopi Dwi Lestari

Scan QRIS menggunakan DANA atau aplikasi pembayaran yang mendukung QRIS. Masukkan nominal sesuai pilihan di atas.

Download QRIS
×

Traktir Kopi Dwi Lestari

Nominal dukungan: Rp30.000

QRIS Traktir Kopi Dwi Lestari

Scan QRIS menggunakan DANA atau aplikasi pembayaran yang mendukung QRIS. Masukkan nominal sesuai pilihan di atas.

Download QRIS
×

Traktir Kopi Dwi Lestari

Nominal dukungan: Rp40.000

QRIS Traktir Kopi Dwi Lestari

Scan QRIS menggunakan DANA atau aplikasi pembayaran yang mendukung QRIS. Masukkan nominal sesuai pilihan di atas.

Download QRIS
×

Traktir Kopi Dwi Lestari

Nominal dukungan: Rp50.000

QRIS Traktir Kopi Dwi Lestari

Scan QRIS menggunakan DANA atau aplikasi pembayaran yang mendukung QRIS. Masukkan nominal sesuai pilihan di atas.

Download QRIS